Bagaimana Investor Menilai Perusahaan? VC dan Private Equity Ternyata Gunakan Pendekatan yang Berbeda

Bagaimana Investor Menilai Perusahaan? VC dan Private Equity Ternyata Gunakan Pendekatan yang Berbeda
Bagaimana Investor Menilai Perusahaan

VINANSIA.COM – Saat seorang pendiri startup mengajukan pendanaan ke investor, sering muncul pertanyaan: Berapa valuasi wajar perusahaannya? Ternyata, pendekatan valuasi sangat bergantung pada siapa investornya—venture capital (VC) atau private equity (PE).

Menurut Bahrul Qamar, praktisi finansial yang berpengalaman dalam valuasi perusahaan rintisan dan korporasi mapan, pendekatan antara keduanya sangat berbeda secara prinsip.

“Venture capital lebih menilai potensi masa depan: tim, ide, dan traction awal. Sementara private equity sangat fokus pada performa keuangan yang sudah terbukti,” jelas Bahrul kepada vinansia.com di acara FundMaker The Investor Magnet Program di hotel Aryaduta, Rabu (30/07).

VC: Melihat Masa Depan, Bukan Laporan Keuangan

Di tahap awal, perusahaan rintisan sering kali belum memiliki pendapatan tetap, apalagi keuntungan. Karena itu, VC umumnya menggunakan pendekatan berbasis proyeksi dan skenario.

“Mereka pakai metode seperti VC Method, Scorecard, atau First Chicago. Yang dinilai itu bukan kinerja sekarang, tapi seberapa besar kemungkinan exit di masa depan,” tambah Bahrul.

Dalam konteks Indonesia, banyak VC menilai startup dari 5–6 aspek kunci: kualitas tim, produk, potensi pasar, dan validasi pengguna.

Private Equity: Wajib Punya Arus Kas

Berbeda dengan VC, private equity masuk ke perusahaan yang sudah matang dan menghasilkan arus kas. Fokus mereka adalah return berbasis leverage (utang) dan efisiensi operasional.

“PE lebih suka valuasi pakai DCF (Discounted Cash Flow) atau bahkan LBO (Leveraged Buyout). Yang dilihat bukan mimpi, tapi arus kas dan efisiensi,” kata Bahrul.

PE akan menghitung seberapa besar pembelian perusahaan bisa dibiayai lewat utang, lalu membayar kembali lewat EBITDA perusahaan dalam waktu 5–7 tahun.

Satu Aset, Dua Penilaian

Bahrul menyebutkan, kasus seperti ini jamak ditemui. “Perusahaan teknologi yang valuasinya tinggi di mata VC, bisa tampak terlalu mahal di mata PE.”

Sebagai contoh, Bahrul menyebut beberapa startup lokal yang sempat mendapat valuasi triliunan rupiah, namun ketika ditinjau oleh investor PE atau korporasi strategis, valuasinya jauh lebih rendah karena belum menghasilkan arus kas positif.

“Valuasi itu seni sekaligus sains. Investor menilai dari sudut pandang yang berbeda, dan founder perlu memahami logika di balik itu,” pungkas Bahrul.

Jika Anda ingin memahami bagaimana investor memandang bisnis Anda—melalui potensi atau fundamental—maka memahami kedua pendekatan ini adalah langkah awal yang krusial.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index