VINANSIA.COM - Indonesia sudah mendapat predikat investment grade sejak 2017. Artinya, secara teori, kita dipercaya mampu membayar utang.
Tapi faktanya: bunga utang kita justru yang paling mahal di Asia Tenggara.
Yield SUN 10 tahun (Agustus 2025)
(Data: Asian Bond Online)
Indonesia: 6,52%
Filipina: 6,11%
Vietnam: 3,38%
Malaysia: 3,38%
Thailand: 1,43%
Singapura: 1,92%
Padahal secara rating utang, kita lebih tinggi dari Filipina dan Vietnam:
Indonesia: BBB (investment grade)
Filipina: BBB
Vietnam: BB+ (non-investment grade)
Pertanyaannya: kenapa kita yang rating-nya lebih bagus justru bayar bunga lebih mahal?
Ada beberapa penjelasan teknis:
BI Rate kita masih tinggi: 5,25% per Agustus 2025. Ini membuat semua instrumen keuangan di Indonesia harus menawarkan imbal hasil tinggi.
Ketergantungan pada investor asing: Sekitar 15% SBN kita dimiliki asing. Ketika mereka keluar, yield harus naik agar menarik lagi.
Likuiditas pasar obligasi: Pasar obligasi kita masih sempit dan kurang dalam dibanding Malaysia atau Thailand. Akibatnya, fluktuasi kecil bisa menaikkan yield.
Risiko fiskal dan persepsi politik: Meski stabil, investor global tetap melihat potensi defisit dan kualitas belanja negara kita sebagai risiko.
Perbankan cenderung cari aman: Banyak bank besar memilih beli SBN ketimbang salurkan kredit ke sektor riil. Ini memperbesar permintaan terhadap yield tinggi.
Konsekuensinya sangat nyata:
Bunga utang 2025 tembus Rp552 triliun
Setara hampir 15% dari total belanja negara.
Naik 25% dibanding 2023.
Ini uang besar yang tidak bisa digunakan untuk pendidikan, subsidi rakyat, atau infrastruktur.
Maka fokus ke depan bukan sekadar memperbesar utang, tapi menurunkan biaya utang. Dan itu hanya bisa dicapai lewat:
Reformasi fiskal
Stabilitas politik
Pasar obligasi yang dalam
BI Rate yang seimbang
Rating bagus belum tentu murah. Tapi kalau kita bisa yakinkan pasar bahwa risiko kita rendah, maka beban bunga bisa jauh lebih ringan.