Harga Bitcoin Merosot Terus, Apa Penyebabnya?

Harga Bitcoin Merosot Terus, Apa Penyebabnya?
Harga Bitcoin Merosot Terus, Apa Penyebabnya? (foto: unsplash)

VINANSIA.COM – Banyak investor Bitcoin saat ini sedang kebingungan mencari alasan mengapa harga aset kripto favorit mereka terus tertekan. Berbagai teori bermunculan, mulai dari isu regulasi hingga sentimen negatif pasar.

Namun, menurut Arthur Hayes, pendiri BitMEX dan analis pasar kripto, jawabannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan fundamental kripto itu sendiri.

Hayes berargumen bahwa penurunan Bitcoin saat ini adalah akibat langsung dari "kekeringan" likuiditas dolar yang sedang terjadi di balik layar sistem keuangan Amerika Serikat. Menurutnya, Bitcoin hanyalah korban dari pergeseran besar dalam cara pemerintah AS mengelola kas mereka.

Fenomena TGA: Saat Pemerintah "Menyedot" Uang dari Pasar
Penyebab utama dari keringnya likuiditas ini adalah aktivitas pada Treasury General Account (TGA). TGA bisa dibayangkan sebagai rekening koran utama milik pemerintah Amerika Serikat yang disimpan di Federal Reserve.

Ketika pemerintah memutuskan untuk meningkatkan saldo di rekening TGA ini, mereka sebenarnya sedang menarik uang keluar dari sistem keuangan publik dan menyimpannya di "brankas" pusat.

Dalam beberapa minggu terakhir, saldo TGA melonjak sekitar $200 miliar. Bagi pasar, ini adalah kabar buruk karena uang sebesar itu tidak lagi berputar di bank-bank komersial atau pasar modal, melainkan mengendap di tangan pemerintah.

Persiapan Menghadapi "Government Shutdown"
Mengapa pemerintah tiba-tiba menimbun uang tunai dalam jumlah raksasa? Arthur Hayes memberikan penjelasan yang masuk akal, yaitu ancaman government shutdown atau penghentian operasional pemerintah akibat kebuntuan anggaran.

Dengan membangun cadangan kas yang besar, pemerintah AS memiliki "napas" untuk tetap membiayai pengeluaran federal meskipun pembicaraan anggaran di tingkat politik menemui jalan buntu.

Sayangnya, tindakan penyelamatan diri pemerintah ini memberikan efek samping bagi investor. Uang yang seharusnya mengalir ke aset berisiko seperti Bitcoin justru tersedot masuk ke rekening pemerintah, membuat likuiditas pasar menyusut drastis.

Data Likuiditas Dolar yang Mengkhawatirkan
Data pasar mendukung teori Hayes. Indeks USDLIQ, yang melacak kelimpahan dolar di sistem keuangan, telah menunjukkan tren penurunan yang nyata. Sejak puncaknya pada Agustus tahun lalu, indeks ini terus merosot hingga akhir Januari 2026.

Penurunan likuiditas sebesar hampir 7% dalam enam bulan terakhir ini berbanding lurus dengan koreksi yang dialami oleh Bitcoin. Sejarah menunjukkan bahwa aset kripto adalah "barometer" paling sensitif terhadap likuiditas dolar.

Saat dolar melimpah, Bitcoin melonjak. Namun saat dolar ditarik kembali ke pusat, Bitcoin adalah aset pertama yang merasakan dampaknya.

Ketika Narasi Makro Mengalahkan Cerita Kripto
Saat ini, narasi internal dunia kripto seperti perkembangan teknologi atau adopsi institusional, seolah tertutup oleh kekuatan ekonomi makro.

Tekanan likuiditas ini tidak hanya memukul Bitcoin, tetapi juga memicu sikap menghindari risiko (risk-aversion) di seluruh sektor keuangan.

Banyak trader mulai menutup posisi mereka, mengurangi penggunaan hutang (leverage), dan memindahkan modal mereka ke aset aman tradisional seperti emas dan perak.

Fenomena ini membuktikan bahwa meskipun Bitcoin disebut sebagai aset desentralisasi, harganya tetap sangat terikat pada ketersediaan uang tunai di sistem keuangan tradisional.

Menunggu Keran Likuiditas Dibuka Kembali
Pesan utama dari Arthur Hayes sangat sederhana, yakni selama pemerintah AS masih menimbun uang dan likuiditas dolar terus menyusut, Bitcoin kemungkinan besar akan terus berjuang untuk naik.

Kunci kebangkitan Bitcoin bukan terletak pada berita kripto terbaru, melainkan pada kapan pemerintah AS mulai kembali mengalirkan uang dari rekening TGA mereka ke pasar.

#kripto

Index

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index