Profil Kevin Warsh, Sosok yang Ditunjuk Donald Trump untuk Pimpin The Fed

Sabtu, 31 Januari 2026 | 21:51:44 WIB
Profil Kevin Warsh, Sosok yang Diincar Donald Trump Buat Pimpin The Fed. (foto: gemini)

VINANSIA.COM – Dunia finansial global sedang menahan napas. Nama Kevin Warsh mendadak menjadi pusat pembicaraan setelah Donald Trump secara terbuka meliriknya sebagai calon kuat pengganti Jerome Powell untuk kursi Ketua Federal Reserve (The Fed).

Bagi orang awam, pergantian jabatan ini mungkin terdengar seperti rotasi birokrasi biasa. Namun, bagi pasar modal, perbankan, hingga dompet masyarakat dunia, sosok yang memimpin The Fed adalah penentu utama apakah harga barang akan melambung atau justru ekonomi akan mendingin.

Kevin Warsh bukanlah "anak baru" di lingkungan pusat kekuasaan Amerika. Ia adalah sosok yang sudah kenyang makan asam garam di jantung sistem keuangan. Mari kita telusuri lebih dalam siapa sebenarnya pria ini dan mengapa visinya sangat berbeda dengan kepemimpinan saat ini.

Rekam Jejak di Tengah Badai 2008
Kevin Warsh memiliki poin plus yang sulit ditandingi yakni ia pernah berada di "ruang mesin" saat kapal ekonomi dunia hampir karam. Menjabat sebagai Gubernur The Fed pada periode 2006 hingga 2011, Warsh berada di barisan depan ketika krisis finansial global 2008 meledak.

Dia melihat sendiri bagaimana bank-bank besar tumbang dan bagaimana sistem keuangan bisa hancur dalam hitungan hari.

Pengalaman ini membentuk mentalitasnya sebagai pengambil kebijakan. Ia tidak hanya memahami teori ekonomi dari buku teks, tapi ia paham betul bagaimana krisis terbentuk secara organik di lapangan dan tindakan ekstrem apa yang diperlukan untuk mengakhirinya. Pengalamannya inilah yang membuat Trump merasa Warsh adalah sosok yang punya nyali dan pemahaman taktis yang kuat.

Ideologi "Hawk": Disiplin Tinggi demi Masa Depan
Dalam dunia perbankan sentral, ada istilah Hawk (Elang) dan Dove (Merpati). Jika Dove cenderung menyukai suku bunga rendah untuk memacu pertumbuhan, Warsh dikenal dengan kecenderungan Hawk. Artinya, ia adalah penganut disiplin ketat. Prinsipnya sederhana namun tegas: membiarkan inflasi liar hari ini adalah sebuah kesalahan fatal yang biayanya akan jauh lebih mahal di masa depan.

Bagi Warsh, inflasi bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi daya beli masyarakat. Ia lebih memilih "pahit di awal" dengan kebijakan moneter yang ketat daripada memberikan janji manis pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh gelembung inflasi yang bisa pecah kapan saja.

Kritik Pedas terhadap Era "Uang Murah"
Salah satu hal yang membuat Warsh menonjol adalah sikap skeptisnya terhadap kebijakan "uang murah" yang telah mendominasi dekade terakhir. Ia adalah pengkritik keras kebijakan suku bunga yang dipaksakan rendah dalam waktu yang terlalu lama. Menurutnya, kondisi ini hanya menciptakan stabilitas semu.

Warsh berargumen bahwa ketika uang terlalu mudah didapat, orang-orang akan mulai mengambil risiko yang berbahaya. Investasi dilakukan secara ugal-ugalan, dan harga aset (seperti properti atau saham) naik bukan karena nilai aslinya, melainkan karena intervensi pemerintah. Ia ingin pasar kembali ke khitahnya yaitu harga harus mencerminkan nilai sebenarnya, bukan karena hasil "pompaan" bank sentral.

QE Bukan untuk Konsumsi Harian
Selama bertahun-tahun, The Fed sering menggunakan jurus Quantitative Easing (QE). Ini sebuah langkah menyuntikkan uang ke pasar dengan membeli obligasi secara masif. Bagi banyak pejabat Fed, ini adalah alat pemacu ekonomi. Namun bagi Kevin Warsh, QE adalah obat darurat, bukan vitamin yang bisa dikonsumsi setiap hari.

Dia sangat skeptis jika bank sentral terus-menerus melakukan intervensi pasar. Warsh memimpikan The Fed yang memiliki peran lebih kecil dengan neraca yang lebih ramping.

Ia tidak ingin pemerintah terus-menerus menjadi penopang pasar. Baginya, ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang bisa berdiri tegak tanpa perlu terus-menerus "diinfus" oleh likuiditas dari bank sentral.

Fleksibilitas di Tengah Kemajuan Teknologi
Meskipun dikenal sebagai sosok yang disiplin dan tegas, bukan berarti Warsh adalah sosok yang kaku. Ia tetap bisa berubah menjadi Dove atau mendukung kebijakan longgar, asalkan syarat utamanya terpenuhi: inflasi benar-benar terkendali.

Menariknya, Warsh melihat potensi pertumbuhan ekonomi dari sisi produktivitas dan teknologi. Ia percaya bahwa jika teknologi berhasil memangkas biaya produksi dan meningkatkan efisiensi secara nyata, maka ekonomi bisa tumbuh pesat tanpa perlu memicu inflasi atau memompa utang secara ugal-ugalan. Di mata Warsh, pertumbuhan harus datang dari inovasi, bukan dari pencetakan uang.

Perbedaan Kontras dengan Jerome Powell
Lalu, apa bedanya jika Warsh menggantikan Powell? Jerome Powell selama ini dikenal sebagai sosok "penengah" yang sangat hati-hati. Powell berusaha menjaga keseimbangan yang sangat tipis antara menekan inflasi dan menjaga angka tenaga kerja, sambil menjaga jarak yang sangat kaku dari pengaruh politik.

Warsh berbeda. Ia lebih disiplin secara moneter dan memiliki urutan prioritas yang sangat jelas: pastikan harga stabil terlebih dahulu, baru kemudian biarkan pertumbuhan ekonomi menyusul. Ia tidak akan ragu untuk mengambil langkah tidak populer demi menjaga stabilitas nilai mata uang.

Mengapa Trump Memilihnya?
Bagi Donald Trump, Kevin Warsh adalah "paket lengkap". Trump membutuhkan seseorang yang cukup disiplin untuk menenangkan pasar, cukup tegas untuk melawan inflasi yang menghantui pemilihnya, namun juga sosok yang tidak menutup diri terhadap visi ekonomi nasional yang lebih besar.

Warsh dianggap sebagai jembatan antara kebijakan moneter yang konservatif dengan ambisi Trump untuk membawa kembali kejayaan industri Amerika.

Dengan Warsh di kemudi The Fed, arah ekonomi Amerika kemungkinan besar akan bergeser ke arah kemandirian pasar, pengurangan intervensi, dan disiplin fiskal yang lebih ketat.

Tags

Terkini

Harga Bitcoin Merosot Terus, Apa Penyebabnya?

Minggu, 01 Februari 2026 | 18:52:49 WIB

Kevin Warsh dan Bitcoin

Sabtu, 31 Januari 2026 | 22:27:16 WIB

Kenapa Donald Trump Ngotot Jadikan AS Pusat Kripto Dunia?

Kamis, 22 Januari 2026 | 14:25:23 WIB