VINANSIA.COM - Batubara seharusnya bersorak. Amerika Serikat keluar dari Paris Agreement. Tidak ada lagi beban untuk menurunkan emisi karbon.
Tidak ada lagi aturan ketat yang menghambat pembangkit listrik tenaga batubara. Produksi bisa ditingkatkan, permintaan bisa naik, harga bisa terdongkrak.
Teorinya begitu.
Tapi apakah itu cukup untuk mengangkat saham-saham batubara Indonesia? Jawabannya tidak sesederhana itu.
Dunia Sudah Berubah
Kita tahu, AS memang pernah menjadi pemain utama di industri batubara dunia. Dulu, keputusan Washington bisa mengguncang pasar energi global. Tapi sekarang, ceritanya berbeda.
Pasar terbesar batubara Indonesia bukan AS. Yang membeli batubara kita adalah China, India, Jepang, dan Korea Selatan. AS bisa saja mencabut semua aturan lingkungan, tapi itu tidak akan mengubah kebijakan energi Beijing.
China sudah menargetkan net zero emission pada 2060. Konsumsi batubara mulai dikurangi, terutama untuk pembangkit listrik.
Pemerintahnya mempercepat investasi di energi terbarukan. Bahkan, mereka mulai menekan impor dan meningkatkan produksi domestik.
India? Masih membutuhkan batubara, tapi mulai lebih protektif. New Delhi ingin industri batubaranya sendiri yang lebih diuntungkan.
Jepang dan Korea Selatan? Mereka tetap melanjutkan transisi energi meskipun tidak secepat Eropa.
Jadi, keluarnya AS dari Paris Agreement tidak serta-merta membuat permintaan batubara global naik. Dunia sudah berubah.
Harga Bisa Naik, Tapi Hanya Sementara
Saham-saham batubara bisa saja naik. Mungkin ada euforia sesaat. Dulu, ketika Trump mengumumkan keluar dari Paris Agreement pada 2017, harga saham PTBA, ADRO, ITMG, dan beberapa emiten batubara lain ikut melonjak.
Tapi apakah itu bertahan? Tidak.
Harga batubara memang sempat terbang di 2021–2022 karena krisis energi global.
Perang Rusia-Ukraina membuat pasokan gas terganggu. Eropa terpaksa kembali menggunakan batubara.
Permintaan melonjak, harga pun naik drastis. Saham batubara menikmati masa kejayaan.
Tapi sekarang, harga mulai turun. Pasokan energi dunia mulai stabil. Negara-negara kembali ke rencana awal: mengurangi emisi karbon. Fokus global kembali ke energi terbarukan.
Keluarnya AS dari Paris Agreement mungkin bisa menciptakan gelombang kecil di pasar. Tapi tren besarnya tetap sama.
Pendanaan? Masih Sulit
Dulu, mendapatkan pinjaman untuk proyek batubara itu mudah. Bank-bank besar mau mendanai. Investor pun masih tertarik.
Sekarang? Berbeda.
Tren investasi global sudah berubah. ESG (Environmental, Social, and Governance) menjadi standar baru. BlackRock, Vanguard, dan banyak dana investasi besar mulai menarik diri dari sektor batubara.
Bank-bank internasional seperti HSBC dan Standard Chartered mulai menutup pintu untuk pembiayaan batubara. Beberapa bank Jepang, yang dulu cukup agresif di sektor ini, juga mulai membatasi pendanaan.
Kalau modal semakin sulit didapat, bagaimana ekspansi bisa dilakukan? Kalau ekspansi sulit, bagaimana perusahaan bisa tumbuh?
Ini yang membuat valuasi saham batubara semakin tertekan.
Jangan Terlalu Berharap
Apakah keluarnya AS dari Paris Agreement akan membuat batubara berjaya lagi? Jawabannya, tidak.
Permintaan masih bergantung pada China dan India, bukan AS.
Pendanaan untuk proyek batubara semakin sulit.
Harga bisa naik, tapi hanya sesaat.
Investor mungkin bisa mengambil untung dari kenaikan sesaat di saham batubara. Tapi kalau berharap batubara kembali ke masa kejayaannya, itu sulit.
Dunia tidak akan mundur. Trennya sudah jelas. Energi fosil perlahan mulai ditinggalkan. Uang akan mengalir ke sektor yang lebih menjanjikan.
Batubara bisa saja bertahan. Tapi apakah bisa terus bersinar? Itu pertanyaan yang lebih besar.