Babak Baru Persaingan Grab dan GoTo di Asia Tenggara, Siapa Paling Profit?

Babak Baru Persaingan Grab dan GoTo di Asia Tenggara, Siapa Paling Profit?
Babak Baru Persaingan Grab dan GoTo di Asia Tenggara, Siapa Paling Profit? (sumber foto: Gemini AI)

Highlights:

  • Persaingan antara Grab Holdings dan GoTo Group kini memasuki fase baru, setelah bertahun-tahun mengandalkan diskon dan subsidi untuk merebut pasar.
  • Grab mencatat laba bersih US$200 juta pada 2025, sementara GoTo berhasil membukukan EBITDA positif Rp2 triliun, bahkan melampaui target perusahaan.
  • Di luar layanan transportasi dan pengantaran, bisnis finansial digital mulai menjadi sumber pertumbuhan utama. Pendapatan pinjaman GoTo melonjak 95% YoY.

JAKARTA, VINANSIA.COM – Selama bertahun-tahun, persaingan bisnis ride-hailing di Asia Tenggara identik dengan satu hal: bakar uang. Diskon besar, promo tak terbatas, hingga subsidi perjalanan menjadi strategi utama untuk merebut pasar.

Namun kini, cerita itu mulai berubah. Persaingan antara Grab Holdings dan GoTo Group memasuki fase baru.

Kedua perusahaan teknologi ini mulai menunjukkan sesuatu yang dulu dianggap sulit dicapai oleh perusahaan teknologi berbasis ekosistem digital: profitabilitas.


Dari Bakar Uang ke Jalan Menuju Profit
Selama lebih dari satu dekade, model bisnis ride-hailing di Asia Tenggara dibangun dengan pendekatan agresif. Perusahaan berlomba memperbesar basis pengguna melalui diskon dan subsidi.

Strategi tersebut berhasil memperluas pasar, tetapi juga membuat perusahaan terus mencatat kerugian. Kini, situasinya berubah. Para pemain besar mulai menata ulang strategi dengan fokus yang berbeda: efisiensi dan profit.

Langkah ini menandai fase kedewasaan industri teknologi di kawasan Asia Tenggara.


Grab Cetak Laba Bersih Pertama
Tahun 2025 menjadi momen penting bagi Grab. Untuk pertama kalinya sejak berdiri, perusahaan ini berhasil membukukan laba bersih sekitar US$200 juta atau setara sekitar Rp3,36 triliun.

Pencapaian ini cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2024, Grab masih mencatat kerugian sekitar US$158 juta.

Kinerja keuangan perusahaan juga menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat.

Pendapatan Grab pada 2025 mencapai sekitar US$3,37 miliar, naik sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di saat yang sama, EBITDA perusahaan melonjak sekitar 60 persen hingga mencapai US$500 juta.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa model bisnis Grab mulai bergerak menuju stabilitas finansial.


GoTo Menunjukkan Perbaikan Signifikan
Perbaikan kinerja juga terlihat pada GoTo. Perusahaan teknologi asal Indonesia ini mencatat pendapatan bersih sekitar Rp18,3 triliun, meningkat sekitar 24 persen secara tahunan.

Selain itu, total nilai transaksi ekosistem atau Gross Transaction Value (GTV) mencapai sekitar Rp400 triliun.

Yang paling penting adalah pencapaian EBITDA positif sebesar Rp2 triliun. Angka ini bahkan melampaui target perusahaan yang sebelumnya diperkirakan berada di kisaran Rp1,8 hingga Rp1,9 triliun.

Melihat tren tersebut, GoTo menaikkan target EBITDA untuk 2026 menjadi sekitar Rp3,2 hingga Rp3,4 triliun.


Layanan On-Demand Masih Menjadi Fondasi
Bisnis inti ride-hailing dan layanan on-demand tetap menjadi fondasi utama bagi GoTo. Nilai transaksi layanan ini mencapai sekitar Rp66,5 triliun, tumbuh sekitar 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, pendapatan dari layanan tersebut mencapai sekitar Rp12,6 triliun, naik sekitar 16 persen.

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa layanan transportasi, pengantaran makanan, dan logistik masih menjadi tulang punggung ekosistem digital. Namun, ada satu sektor lain yang mulai muncul sebagai mesin pertumbuhan baru.


Fintech Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru
Salah satu perkembangan paling menarik dalam ekosistem GoTo adalah pertumbuhan bisnis finansial. Pendapatan dari layanan pinjaman meningkat sekitar 95 persen secara tahunan, mencapai sekitar Rp3,8 triliun.

Sementara itu, total buku pinjaman juga meningkat tajam menjadi sekitar Rp8,8 triliun, naik sekitar 68 persen. Perkembangan ini menunjukkan bahwa platform digital tidak lagi hanya berfungsi sebagai layanan transportasi atau pengantaran makanan.

Mereka juga mulai berperan sebagai platform keuangan yang menyediakan layanan pembayaran, pinjaman, hingga pembiayaan bagi pengguna dan mitra.


Siapa Paling Cepat Mencetak Profit
Jika beberapa tahun lalu persaingan Grab dan GoTo berfokus pada siapa yang paling agresif memberikan diskon, kini medan persaingan telah berubah.

Fase baru industri ini ditentukan oleh satu pertanyaan penting: Siapa yang paling cepat mengubah ekosistem digital menjadi mesin profit yang berkelanjutan?

Perusahaan yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan pengguna dengan efisiensi operasional kemungkinan akan memenangkan fase berikutnya.

Hal ini juga menjadi tanda bahwa industri teknologi Asia Tenggara mulai memasuki tahap yang lebih matang di mana keberhasilan tidak lagi diukur dari jumlah pengguna saja, tetapi dari kemampuan menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan. []

#teknologi

Index

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index