VINANSIA.COM - Soegiharto Sosrodjojo telah tiada. Pendiri Rekso Group itu meninggal dunia pada Jumat, 24 Januari 2025, di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading. Di usia 96 tahun, ia menutup hidupnya setelah mengukir sejarah panjang di dunia bisnis Indonesia.
Ia bukan sekadar pengusaha. Soegiharto adalah simbol inovasi. Ide sederhana yang ia gagas di sebuah kota kecil, Slawi, Jawa Tengah, berhasil mengubah cara orang menikmati teh. Dari dapur keluarga, Soegiharto memulai segalanya pada 1940-an. Kala itu, teh hanya dikenal sebagai minuman yang harus diseduh sendiri. Tapi, di mata Soegiharto, ada peluang besar di balik kebiasaan itu.
Awalnya, keluarga Sosrodjojo mempromosikan produk teh mereka dengan metode uji rasa. Teh diseduh, lalu disajikan kepada pelanggan. Namun, cara itu memakan waktu. Hingga akhirnya muncul ide: bagaimana jika teh ini dikemas dalam botol, siap diminum kapan saja? Dari sinilah perjalanan panjang Teh Botol Sosro dimulai.
Pada 1969, botol pertama Teh Botol Sosro diluncurkan. Tak ada yang menyangka, ide sederhana ini akan menjadi revolusi. Empat tahun kemudian, pada 1974, Soegiharto membuka pabrik pertama di Bandung. Itu adalah pabrik pertama di Indonesia—bahkan di dunia—yang memproduksi teh siap minum dalam botol kaca.
Bisnisnya terus berkembang. Di bawah payung Rekso Group, ia mendirikan PT Sinar Sosro yang menjadi raksasa di industri minuman. Selain itu, ia juga membangun PT Gunung Slamat, produsen teh hitam dan hijau. Rekso Group bahkan merambah sektor makanan cepat saji dengan menjadi pemegang waralaba McDonald’s di Indonesia melalui PT Rekso Nasional Food.
Namun, bisnis besar itu tak membuat Soegiharto melupakan prinsip dasarnya: kesederhanaan. Ia jarang muncul di depan publik. Ia lebih senang membiarkan produknya berbicara. Baginya, kualitas adalah promosi terbaik.
Kini, Teh Botol Sosro tak hanya menjadi ikon nasional, tetapi juga produk ekspor yang telah menjangkau negara-negara seperti Jepang, Amerika Serikat, hingga Timur Tengah. Dengan 11 pabrik, 160 kantor penjualan, dan ribuan karyawan, warisan Soegiharto tetap hidup dan terus berkembang.
Jenazah Soegiharto akan dikremasi pada 27 Januari 2025, setelah upacara penutupan peti yang telah dilangsungkan sehari sebelumnya. Keluarga besar Sosrodjojo kini memegang tongkat estafet untuk melanjutkan warisan ini.
Soegiharto memang telah pergi, tetapi visinya tetap hidup dalam setiap botol Teh Sosro yang kita nikmati. Ia mengajarkan bahwa inovasi bisa dimulai dari ide sederhana, asalkan dilakukan dengan tekad dan ketekunan. Selamat jalan, Pak Soegiharto. Indonesia berhutang banyak pada Anda.