Prabowo dan Buku

Prabowo dan Buku
Prabowo dan Buku

VINANSIA.COM - Prabowo Subianto mungkin lebih sering kita lihat dengan seragam rapi atau jas formal, wajahnya serius, bicaranya tegas. Tapi, siapa sangka, di balik semua itu, ia adalah seorang kutu buku. 

Tidak sekadar pembaca biasa, tapi pembaca yang dalam—buku bagi Prabowo bukan sekadar hiburan, melainkan pelajaran, bahan renungan, dan mungkin juga pelarian dari kerasnya dunia politik.  

Bayangkan seorang presiden—dalam jadwalnya yang padat, penuh rapat, penuh urusan negara—masih sempat mampir ke toko buku. 

Kalau Anda pikir itu sekadar gaya-gayaan, salah. Ini bukan soal beli buku buat pencitraan. Buktinya, dari New Delhi sampai Washington DC, Prabowo selalu menyempatkan diri melipir ke toko buku di tengah kunjungan kerja.  

Toko Buku, Tempat Melarikan Diri

Sebut saja Bahrisons Booksellers di New Delhi, India. Toko buku tua yang sudah berdiri sejak 1953 itu jadi salah satu tempat yang ia kunjungi baru baru ini. 

Di sana, Prabowo mencari buku sejarah dan literatur lokal. Konon, ia membawa pulang beberapa buku tebal yang bahkan judulnya sulit dilafalkan, apalagi dibaca dalam sekali duduk.  

Atau di Second Story Books, Washington DC. November 2024, Prabowo terlihat di toko buku yang terkenal dengan koleksi langkanya ini. Di sela pembicaraan serius soal hubungan bilateral dengan Amerika, ia masih sempat memburu bacaan baru. Ada yang bilang ia mengambil beberapa buku tentang politik global dan peradaban kuno.  

Jangan lupa juga kunjungannya ke Made Book Shop di Seminyak, Bali, saat KTT G20. Dalam hiruk-pikuk konferensi, ia meluangkan waktu mengunjungi toko kecil itu. Buku-buku lawas di sana jadi sasaran utamanya. Mungkin, di sela urusan diplomasi, ia butuh sejenak tenggelam dalam dunia yang lebih hening, lebih damai—dunia dalam lembaran-lembaran kertas.  

Prabowo dan Kesatria Cahaya 

Dari banyak buku yang ia baca, salah satu yang sering ia sebutkan adalah Warrior of the Light karya Paulo Coelho. Buku ini bicara tentang perjuangan hidup, keberanian menghadapi tantangan, dan kepercayaan pada diri sendiri. Semua nilai itu terasa cocok dengan sosok Prabowo.  

Salah satu petuah dari buku itu berbunyi:  

"Ksatria cahaya percaya bahwa tidak ada pengalaman yang sia-sia; bahkan yang paling pahit sekalipun dapat menjadi pelajaran." 

Mungkin, dari sini kita bisa memahami filosofi Prabowo. Bahwa segala rintangan, segala kekalahan, bukan akhir, melainkan bagian dari perjalanan.  

Lebih dari Sekadar Pemimpin

Prabowo yang kutu buku ini adalah sisi lain yang jarang terekspos. Dalam kesibukan sebagai pemimpin, ia tetap mencari waktu untuk membaca, merenung, dan belajar. Dan bukankah itu yang kita butuhkan dari seorang pemimpin? Sosok yang terus membuka pikirannya, terus belajar, terus mencari kebijaksanaan.  

Maka, kalau Anda bertanya, bagaimana Prabowo bisa tetap tegas sekaligus reflektif, jawabannya mungkin sederhana: karena ia rajin membaca.  

Mungkin, di suatu sore yang lengang, ia sedang duduk di ruang kerjanya, membuka halaman sebuah buku, mencari inspirasi untuk langkah berikutnya. Sebab bagi Prabowo, kuasa tanpa kata adalah sia-sia.  

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index