Siapa yang Akan Menggantikan AS di WHO?

Siapa yang Akan Menggantikan AS di WHO?
Siapa yang Akan Menggantikan AS di WHO?

VINANSIA.COM - Keputusan Amerika Serikat untuk mundur dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah membuka ruang kosong dalam kepemimpinan global, baik dari segi pendanaan maupun pengaruh strategis. Ketika kontribusi AS sebelumnya mencakup sekitar 18% dari total anggaran WHO, pengaruh politik dan keuangannya sangat dominan dalam menentukan arah kebijakan global. Pertanyaannya sekarang: siapa yang paling mungkin mengisi kekosongan ini?  

Kandidat Utama

1. China: Pemimpin Baru yang Paling Mungkin

Dari perspektif geopolitik, China adalah kandidat yang paling mungkin menggantikan AS. Beberapa alasan mendukung spekulasi ini:  

Komitmen Finansial: China telah menunjukkan kesediaan untuk meningkatkan kontribusi keuangan ke WHO. Selama pandemi Covid-19, Beijing berkomitmen miliaran dolar untuk membantu negara berkembang melalui mekanisme seperti Covax.  
Strategi Geopolitik: WHO dapat menjadi alat bagi China untuk memperluas pengaruhnya di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, wilayah yang semakin terintegrasi dengan kebijakan Belt and Road Initiative (BRI).  
Pengalaman Domestik: Dengan populasi besar dan pengalaman dalam menangani wabah seperti SARS dan Covid-19, China memiliki legitimasi untuk mengklaim kepemimpinan dalam isu-isu kesehatan global.  

Namun, dominasi China di WHO dapat memunculkan masalah baru, termasuk kekhawatiran bias dalam pengambilan keputusan dan prioritas yang lebih berpihak pada kepentingan geopolitik Beijing daripada kebutuhan global.  

2. Uni Eropa: Kekuatan Kolektif yang Berpotensi
Uni Eropa (UE) memiliki peluang untuk memimpin, terutama jika mereka mampu menyatukan kekuatan negara-negara anggotanya.  

Pendekatan Multilateral: UE memiliki komitmen kuat terhadap sistem multilateral, yang tercermin dari dukungan mereka terhadap program-program global di WHO.  
Kontribusi Finansial: Jika negara-negara anggota seperti Jerman, Prancis, dan Belanda meningkatkan kontribusinya, UE dapat menggantikan sebagian peran finansial AS.  
Kredibilitas Moral: Dengan rekam jejak mempromosikan kebijakan berbasis sains dan inklusi global, UE dapat menjadi penyeimbang terhadap potensi dominasi China.  

Tantangan utama UE adalah birokrasi internal yang lambat dan ketidakmampuan untuk bertindak cepat sebagai satu entitas terpadu dalam menghadapi krisis.  

3. Koalisi Negara-Negara Berkembang: Harapan Baru? 

Negara-negara berkembang, seperti India, Brasil, dan Afrika Selatan, mungkin melihat ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan suara mereka di WHO.  

Kebutuhan yang Lebih Representatif: Negara-negara berkembang dapat menggunakan momentum ini untuk mendorong agenda yang lebih fokus pada penyakit tropis, akses vaksin, dan penguatan sistem kesehatan lokal.  
Kapasitas Kolaborasi: Dengan bekerja secara kolektif, negara-negara ini dapat membentuk aliansi strategis untuk mengimbangi pengaruh negara besar seperti China.  

Namun, kurangnya pendanaan yang signifikan dan tantangan koordinasi antar negara berkembang membuat peluang mereka untuk mengambil alih kepemimpinan penuh relatif kecil.  

Kepemimpinan Hybrid?

Mungkin dunia akan bergerak menuju model kepemimpinan yang lebih terdesentralisasi. Dengan absennya AS, kita mungkin akan melihat:  

Kepemimpinan Hybrid: Kombinasi antara China, UE, dan beberapa donor utama lainnya seperti Jepang, Korea Selatan, dan Kanada dapat menciptakan keseimbangan baru.  

Peran Sektor Swasta: Organisasi filantropi seperti Gates Foundation dapat memainkan peran yang lebih signifikan dalam menutupi kekurangan pendanaan.  

Pergeseran Keseimbangan Global

Secara rasional, China adalah kandidat terkuat untuk menggantikan AS di WHO, tetapi kepemimpinannya tidak akan diterima secara universal tanpa tantangan. Uni Eropa dapat menjadi alternatif yang kredibel, tetapi harus mengatasi hambatan internalnya untuk bertindak lebih efektif. Di sisi lain, koalisi negara-negara berkembang bisa menjadi suara baru dalam WHO, meskipun kekuatan mereka akan bergantung pada kemampuan mereka untuk bekerja sama.  

Yang pasti, absennya AS akan menciptakan pergeseran dalam keseimbangan kekuatan global di WHO, dengan konsekuensi yang akan memengaruhi prioritas kesehatan dunia selama bertahun-tahun mendatang. Dunia akan menyaksikan apakah kekosongan ini akan diisi oleh satu negara, sekelompok negara, atau kombinasi dari berbagai pihak.  

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index