Trump, WHO, dan Drama Politik yang Mengabaikan Kesehatan

Trump, WHO, dan Drama Politik yang Mengabaikan Kesehatan
Bendera WHO

VINANSIA.COM - Donald Trump kembali dengan gayanya yang tak pernah setengah-setengah. Baru sehari kembali menjadi Presiden Amerika Serikat, ia langsung menarik AS dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Langkah ini mengulangi drama lama: WHO dianggap tak kompeten, pro-China, dan menjadi beban bagi kantong Amerika. Tapi benarkah narasi itu berdiri kokoh, atau ini hanya permainan panggung dari seorang presiden yang selalu ingin jadi pusat perhatian?

Trump berdalih bahwa WHO gagal menangani pandemi COVID-19 pada 2020. Ia menuding organisasi ini terlalu tunduk pada pengaruh China, sementara Amerika harus membayar kontribusi keuangan terbesar. “China, dengan populasi tiga kali populasi Amerika, hanya menyumbang sedikit. Kenapa kita yang harus membayar lebih banyak untuk organisasi yang gagal?” begitu kira-kira argumennya.

Retorika 'Besar Kontribusi, Besar Kuasa'

Logika Trump terlihat sederhana: siapa membayar lebih, berhak bicara lebih. Dalam dunia bisnis, pendekatan ini mungkin masuk akal. Tapi dalam diplomasi internasional, logika seperti ini ibarat mencoba mengukur kekompakan tim sepak bola hanya dari harga transfer pemainnya. Dunia kesehatan global bukan sekadar soal angka; ini soal solidaritas, koordinasi, dan kemampuan berbagi tanggung jawab.

Memang benar, kontribusi AS untuk WHO adalah yang terbesar, sekitar 15% dari total anggaran organisasi. Namun, bukankah peran besar selalu datang dengan tanggung jawab besar pula? Jika AS merasa terlalu banyak membayar, tidakkah itu menjadi sinyal bahwa AS punya kapasitas lebih untuk memimpin, alih-alih mundur?

China: Ancaman atau Dalih?

Trump juga menjadikan China sebagai sasaran tembak utama. Ia mengkritik kontribusi finansial China di WHO yang jauh lebih kecil dibandingkan AS. Tapi perlu diingat, posisi finansial tidak selalu setara dengan posisi strategis. China mungkin membayar lebih kecil, tetapi pengaruhnya tetap besar karena diplomasi aktifnya di negara-negara berkembang, terutama di Afrika.

Trump mencoba membingkai peran China di WHO sebagai ancaman. Tapi apakah ancaman itu benar-benar nyata, atau sekadar narasi untuk mengalihkan perhatian dari kegagalan internal AS? Selama pandemi, bukankah banyak kebijakan Trump sendiri yang terbukti tidak efektif—mulai dari meremehkan masker hingga memperlambat vaksinasi di awal? Menyalahkan WHO atau China dalam hal ini lebih terasa seperti mencari kambing hitam daripada solusi.

Ironi Keberlanjutan Global

Yang membuat langkah ini semakin ironis adalah waktu pengumumannya. Dunia masih berada dalam masa pemulihan pasca-COVID-19, dengan tantangan baru seperti varian virus yang terus berkembang dan krisis kesehatan global lainnya. Dalam kondisi seperti ini, bukankah kerja sama internasional lebih penting daripada ego nasional?

Keputusan Trump ini ibarat kapten kapal yang marah karena merasa mendayung sendirian, lalu memilih melompat keluar kapal tanpa menyadari badai besar sedang mendekat. Memang, ia mungkin bisa berenang sendiri untuk sementara, tapi apa yang terjadi ketika badai benar-benar datang?

Kemenangan Kosong

Trump mungkin merasa langkah ini adalah kemenangan. Ia bisa menunjukkan kepada pendukungnya bahwa ia tetap setia pada slogan "America First." Tapi pada skala global, keputusan ini hanya memperkuat persepsi bahwa Amerika di bawah Trump adalah negara yang tidak bisa diandalkan.

Sejarah menunjukkan, krisis global membutuhkan kerja sama global. Polio, HIV, Ebola—semuanya berhasil ditekan melalui kolaborasi internasional, bukan isolasi. Menarik diri dari WHO hanya akan membuat AS kehilangan pengaruh strategis di panggung global, sambil membuka peluang bagi negara lain, termasuk China, untuk mengisi kekosongan itu.

Arogansi yang Mahal

Keputusan Trump untuk menarik AS dari WHO mencerminkan arogansi klasik: merasa bahwa uang bisa membeli segalanya, termasuk kendali penuh dalam organisasi multilateral. Tapi dunia tidak berjalan seperti itu. WHO mungkin tidak sempurna, tapi apakah meninggalkan meja perundingan akan membuatnya lebih baik? Atau justru membuat AS kehilangan kesempatan untuk memperbaiki sistem dari dalam?

Pada akhirnya, langkah ini lebih terasa seperti teater politik daripada kebijakan strategis. Trump mungkin menikmati tepuk tangan pendukungnya, tapi dunia tahu bahwa keluar dari WHO bukanlah solusi, melainkan sebuah kemunduran. Karena dalam urusan kesehatan global, seperti halnya dalam kehidupan, kerja sama selalu lebih murah daripada arogansi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index