VINANSIA.COM – Sir Li Ka-shing, GBM KBE JP, lahir pada 29 Juli 1928 di Chao'an, Chaozhou, Guangdong, Tiongkok. Kini, ia dikenal sebagai salah satu tokoh bisnis paling berpengaruh di dunia.
Li Ka-shing adalah seorang miliarder, investor, dan filantropis asal Hong Kong yang memiliki kekayaan bersih sekitar USD 37,7 miliar (sekitar Rp 600 triliun) per Juli 2023, menjadikannya orang terkaya ke-33 di dunia.
Perjalanan Karir dan Keberhasilan Bisnis
Li Ka-shing memulai perjalanannya dari kondisi yang sangat sederhana. Pada tahun 1940, ia dan keluarganya melarikan diri ke Hong Kong sebagai pengungsi akibat perang Sino-Jepang.
Kehidupan mereka semakin sulit setelah ayahnya meninggal dunia akibat tuberkulosis. Li, yang saat itu berusia 15 tahun, terpaksa meninggalkan sekolah dan bekerja di sebuah perusahaan perdagangan plastik selama 16 jam sehari.
Pada tahun 1950, Li mendirikan perusahaannya sendiri, Cheung Kong Industries, yang awalnya bergerak di bidang manufaktur plastik. Berkat kerja keras dan visinya yang tajam, ia berhasil mengembangkan perusahaannya menjadi salah satu perusahaan investasi real estate terkemuka di Hong Kong, yang kemudian tercatat di Bursa Efek Hong Kong pada tahun 1972. Perluasan bisnis Li berlanjut dengan mengakuisisi Hutchison Whampoa dan Hongkong Electric Holdings Limited pada tahun 1979 dan 1985.
Sebagai salah satu konglomerat terbesar, perusahaan Li, Cheung Kong Holdings, berinvestasi di berbagai sektor, termasuk transportasi, real estate, layanan keuangan, ritel, dan energi. Perusahaan ini bahkan menyumbang sekitar 4% dari total kapitalisasi pasar di Bursa Efek Hong Kong.
Filosofi Hidup Sederhana
Meskipun kekayaannya luar biasa, Li Ka-shing dikenal dengan gaya hidup sederhana dan hemat. Ia sering terlihat mengenakan sepatu hitam biasa dan jam tangan murah dari Seiko. Bahkan, pada tahun 2016, ia masih mengenakan jam tangan Citizen seharga HKD 500 atau sekitar Rp 1 juta.
Li masih tinggal di rumah yang sama selama beberapa dekade, meskipun wilayah tersebut telah menjadi salah satu distrik termahal di Hong Kong, Deep Water Bay.
Kontribusi Filantropis
Sebagai seorang filantropis, Li Ka-shing telah menyumbangkan miliaran dolar untuk berbagai kegiatan amal dan sosial. Ia memiliki yayasan pribadi terbesar kedua di dunia setelah Bill & Melinda Gates Foundation. Pada tahun 2019, Forbes menempatkannya dalam daftar dermawan paling murah hati di luar Amerika Serikat.
Kehidupan Pribadi
Li menikah dengan sepupunya, Chong Yuet-ming, dari tahun 1962 hingga kematiannya pada tahun 1990. Pernikahan mereka berlangsung selama 27-28 tahun sebelum Chong meninggal secara tiba-tiba pada Hari Tahun Baru 1990. Mereka memiliki dua putra, Victor Li dan Richard Li, yang juga merupakan tokoh bisnis terkenal di Hong Kong.
Victor Li kini menjabat sebagai Ketua CK Hutchison Holdings dan CK Asset Holdings Limited, sementara Richard Li adalah Ketua PCCW, perusahaan telekomunikasi terbesar di Hong Kong.
Insiden Penculikan Anak
Pada tahun 1996, anak sulungnya, Victor Li, diculik oleh gangster terkenal Cheung Tze-keung, alias "Big Spender". Li Ka-shing membayar tebusan sebesar HKD 1 miliar secara langsung kepada Cheung yang datang ke rumahnya.
Meskipun tidak ada laporan yang diajukan ke polisi Hong Kong, kasus ini ditangani oleh otoritas di daratan Tiongkok, yang kemudian mengeksekusi Cheung pada tahun 1998.
Penghargaan dan Pengakuan
Li Ka-shing telah menerima berbagai penghargaan atas kontribusinya di dunia bisnis dan filantropi. Pada 5 September 2006, majalah Forbes dan keluarga Forbes menganugerahkan Li dengan Malcolm S. Forbes Lifetime Achievement Award di Singapura. Penghargaan ini adalah yang pertama kali diberikan oleh Forbes, menandakan betapa besar penghargaan dunia internasional terhadap pencapaian dan kontribusi Li Ka-shing.
Kisah hidup Li Ka-shing adalah contoh nyata bagaimana kerja keras, ketekunan, dan visi yang jelas dapat mengubah hidup seseorang dari kondisi yang sangat sulit menjadi salah satu orang terkaya dan paling berpengaruh di dunia.
Selain itu, dedikasinya untuk berbagi kekayaan melalui berbagai kegiatan filantropi juga menunjukkan bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari kekayaan materi, tetapi juga dari seberapa besar dampak positif yang bisa diberikan kepada masyarakat.