VINANSIA.COM – Rabu minggu ini menjadi hari ketiga berturut-turut harga minyak merosot lebih dari 1%. Penurunan ini dipicu oleh pernyataan pejabat Federal Reserve yang menghidupkan kembali kekhawatiran mengenai permintaan minyak. Mereka mengindikasikan bahwa penurunan suku bunga mungkin ditunda karena inflasi yang terus berlanjut.
Minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi patokan internasional, ditutup melemah 98 sen atau 1,18%, menjadi USD81,90 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan Amerika Serikat, turun USD1,09 atau 1,39%, menjadi USD77,57 per barel. Kedua benchmark ini mengalami penurunan sekitar 1% pada sesi Selasa.
Dalam risalah pertemuan penetapan kebijakan Mei yang dirilis Rabu, pejabat Federal Reserve mengindikasikan bahwa inflasi akan memerlukan waktu lebih lama untuk mereda dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya. Hal ini memberikan tekanan tambahan pada pasar minyak.
"Saya tidak memperkirakan penurunan suku bunga akan terjadi sebelum salah satu pertemuan musim gugur," ujar John Kilduff, mitra di Again Capital. Penundaan ini berarti biaya pinjaman tetap tinggi, yang bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi permintaan minyak.
Di Amerika, laporan dari Badan Informasi Energi menunjukkan stok minyak mentah melonjak 1,8 juta barel selama pekan yang berakhir hingga 17 Mei. Ini bertentangan dengan prediksi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan sebesar 2,5 juta barel. Data dari American Petroleum Institute (API) juga melaporkan kenaikan 2,48 juta barel.
"Ada permintaan yang kuat dari penyulingan minyak mentah dan permintaan bensin merupakan salah satu yang tertinggi yang pernah kami lihat dalam beberapa waktu," kata Kilduff. Sebagian dari peningkatan permintaan tersebut disebabkan penimbunan oleh pemasok menjelang long weekend Memorial Day, tambahnya.
Pasar minyak mentah sedang tertekan oleh melemahnya fundamental. Jatuhnya harga spot Brent atas kontrak berjangka dan melemahnya margin pengilangan bisa memaksa OPEC+ untuk memperpanjang pengurangan produksi pada pertemuan Juni guna mendukung harga, menurut Ole Hansen, analis Saxo Bank.
Pasar minyak mentah fisik juga melemah. Tanda lain bahwa kekhawatiran terbatasnya pasokan segera mereda adalah premi kontrak first-month Brent dibandingkan kontrak bulan kedua, yang dikenal sebagai backwardation, mendekati level terendah sejak Januari.
"Pandangan terhadap prospek fundamental masih suram," kata Tamas Varga, analis PVM. Ini mencerminkan kekhawatiran berkelanjutan tentang keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar minyak global.
Di tengah semua ketidakpastian ini, satu hal yang jelas: pasar minyak tetap sangat rentan terhadap berbagai faktor ekonomi dan geopolitik yang dapat mengubah arah harga sewaktu-waktu. Kita hanya bisa menunggu dan melihat bagaimana dinamika ini berkembang dalam beberapa bulan mendatang.