Belajar dari Pemilik Kahf, Bagaimana Merebut Pasar yang Sudah Dikuasai Para "Raksasa"

Belajar dari Pemilik Kahf, Bagaimana Merebut Pasar yang Sudah Dikuasai Para
Nurhayati Subakat

VINANSIA.COM - Nurhayati Subakat. Nama itu mungkin lebih identik dengan Wardah, pionir kosmetik halal di Indonesia. Tapi siapa sangka, di balik gemerlap kesuksesan itu, ada sebuah cerita tentang keberanian menantang arus, yang kini menelurkan merek baru: Kahf. 

Produk perawatan pria ini diam-diam mengguncang pasar yang selama ini dikuasai merek-merek raksasa global. Bagaimana bisa?

1. Keberanian Melawan Dominasi Raksasa

Pasar perawatan wajah pria di Indonesia bukanlah kolam yang sepi. Garnier Men, Nivea Men, dan Pond’s Men sudah bercokol lama. Dengan strategi global, bujet iklan besar, dan riset bertahun-tahun, mereka seperti raksasa yang tak tergoyahkan. Tapi Kahf, merek baru yang lahir pada 2020, justru melawan itu semua.

“Kami tahu, pasar pria itu potensial. Tapi kami tidak datang untuk sekadar ikut-ikutan,” begitu kira-kira filosofi yang dibawa Nurhayati Subakat lewat Kahf. 

Dengan bijak, ia tidak bermain di wilayah yang sudah terlalu sesak. Ia memilih menciptakan ceruk baru.

2. Menciptakan Ceruk: Produk Halal untuk Pria

Halal bukan sekadar label. Bagi sebagian besar konsumen Muslim, ini adalah kebutuhan. Dan Kahf memahami hal itu. Sementara pemain besar fokus pada klaim-klaim umum seperti anti-acne atau oil control, Kahf menawarkan produk yang berbicara langsung kepada hati konsumen.

“Halal dan natural,” dua kata ini menjadi inti dari produk Kahf. Mereka tidak hanya memberikan janji, tapi juga solusi. Produk seperti Kahf Oil and Acne Care Face Wash dibuat dari bahan-bahan alami dengan sertifikasi halal yang terjamin. Ini bukan hanya tentang merawat kulit, tapi juga memenuhi kebutuhan spiritual konsumen Muslim.

Dengan ini, Kahf berhasil menarik segmen pasar yang selama ini tidak terlalu disentuh oleh raksasa global.

3. Pemasaran yang Relevan dan Dekat dengan Konsumen

Kahf tidak berbicara dalam bahasa yang rumit. Iklan mereka tidak dipenuhi dengan jargon-jargon ilmiah yang membingungkan. Sebaliknya, mereka menggunakan pendekatan yang sederhana tapi mengena.

Lewat kampanye seperti #PerjalananBerKahf, mereka mengajak pria Indonesia untuk merawat diri, tetapi tetap "maskulin" dan tidak berlebihan. Pesannya jelas: merawat diri bukan berarti melupakan identitas.

Lebih dari itu, Kahf memanfaatkan kekuatan media sosial. Mereka menggandeng influencer yang relevan dengan target pasar, seperti figur Muslim yang berpengaruh di kalangan anak muda. 

Strategi ini membuat merek mereka lebih cepat dikenal tanpa harus bersaing langsung dengan iklan-iklan besar dari pemain global.

4. Diversifikasi Produk yang Pintar

Tidak hanya berhenti di sabun cuci muka, Kahf langsung meluncurkan rangkaian produk lain seperti deodorant, perawatan jenggot, dan parfum. Langkah ini bukan hanya soal memperluas portofolio, tapi juga soal menciptakan pengalaman lengkap bagi konsumen.

Pria yang membeli sabun cuci muka Kahf, misalnya, kemungkinan besar juga membutuhkan deodorant atau parfum. Dengan menyediakan semua kebutuhan itu dalam satu merek, Kahf menciptakan loyalitas pelanggan.

5. Sentuhan Lokal yang Menggugah

Ada satu hal yang sering dilupakan pemain global: memahami budaya lokal. Tapi Kahf, dengan akar Paragon yang kuat, paham benar bagaimana berbicara dengan konsumen Indonesia.

Misalnya, mereka tidak sekadar menjual produk. Mereka juga menyisipkan nilai-nilai positif dalam kampanyenya, seperti pentingnya menjaga kebersihan dan tampil percaya diri tanpa melupakan nilai spiritual. Ini bukan hanya membuat Kahf lebih relevan, tapi juga lebih dicintai.

6. Filosofi Nurhayati Subakat: Berani Bermimpi Besar

Di balik semua itu, ada tangan dingin Nurhayati Subakat. Pendiri Paragon ini punya filosofi sederhana: mulailah dengan apa yang kamu bisa, tapi jangan takut bermimpi besar.

Ia memulai bisnis dari garasi rumahnya, memasarkan sampo secara door-to-door. Kini, ia membangun kerajaan bisnis yang menginspirasi banyak orang. Kahf adalah bukti bahwa keberanian dan inovasi bisa menantang siapa pun, bahkan raksasa sekalipun.

Dalam sebuah wawancara, Nurhayati pernah mengatakan, "Bisnis bukan sekadar mencari untung. Kita harus membawa manfaat." Dan itulah yang dilakukan Kahf. Mereka tidak hanya menjual produk, tapi juga membawa solusi dan nilai bagi konsumen.

Belajar dari Kahf: Apa yang Bisa Kita Petik?

  1. Fokus pada Ceruk Pasar: Jangan mencoba mengalahkan pemain besar di lapangan mereka. Ciptakan lapangan baru, seperti yang dilakukan Kahf dengan produk halal dan alami.
  2. Kenali Konsumen dengan Baik: Pahami kebutuhan mereka, bukan hanya dari sisi fungsional, tapi juga emosional dan spiritual.
  3. Pemasaran yang Relevan: Bicara dengan bahasa konsumen. Jangan terlalu rumit, tapi juga jangan terlalu sederhana.
  4. Diversifikasi dengan Cerdas: Jangan menunggu terlalu lama untuk memperluas produk. Jika sudah ada peluang, ambil.
  5. Keberanian dan Filosofi Positif: Bisnis yang sukses bukan hanya soal strategi, tapi juga soal niat dan keberanian untuk bermimpi besar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index