VINANSIA.COM - Keputusan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS pada Januari 2025 bukanlah sekadar langkah diplomatik, melainkan sebuah keputusan yang memiliki implikasi besar terhadap arah ekonomi Indonesia dalam beberapa dekade mendatang.
Di satu sisi, BRICS, dengan anggotanya yang meliputi Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan, menawarkan peluang untuk meningkatkan ekspor, mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa, serta memperluas pengaruh Indonesia di pasar global.
Namun, di sisi lain, bergabung dengan blok ini juga membawa tantangan besar, baik dalam hal ketergantungan ekonomi maupun dalam menghadapi ketegangan geopolitik yang bisa merusak stabilitas ekonomi domestik.
Diversifikasi Pasar, Peluang Ekspor Nonmigas
Bergabungnya Indonesia dalam BRICS memberikan akses yang lebih luas ke pasar negara-negara besar dengan ekonomi yang berkembang pesat. Ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS dan Eropa, yang sering kali disertai dengan gesekan perdagangan yang merugikan, seperti yang terlihat dalam sengketa kelapa sawit dengan Uni Eropa.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2024 ekspor nonmigas Indonesia ke negara-negara BRICS tercatat sebesar USD 84,37 miliar atau sekitar Rp 1.375 triliun, yang menyumbang hampir 34% dari total ekspor nonmigas Indonesia. Dengan Cina sebagai mitra utama yang menyumbang 24% dari total ekspor nonmigas, peluang untuk memperbesar ekspor komoditas unggulan Indonesia—seperti besi dan baja, batu bara, dan kelapa sawit—jelas terbuka.
India, sebagai pasar dengan permintaan tinggi terhadap CPO, juga menawarkan potensi peningkatan signifikan. Selain itu, ekspor Indonesia ke negara-negara BRICS lainnya, seperti Brasil dan Afrika Selatan, meskipun relatif kecil, dapat menjadi pasar tambahan yang semakin berkembang seiring waktu. Keanggotaan dalam BRICS juga memperkuat posisi Indonesia dalam konteks geopolitik, memungkinkan negara ini untuk berperan lebih aktif dalam berbagai forum ekonomi global.
Ketergantungan Baru dan Ketidakpastian Geopolitik
Namun, meskipun peluang ekonomi yang ditawarkan BRICS tidak dapat diabaikan, keputusan ini juga membawa sejumlah risiko yang harus dipertimbangkan dengan hati-hati.
Salah satu kekhawatiran terbesar adalah munculnya ketergantungan baru pada pasar yang memiliki karakteristik sangat berbeda. Ketika Indonesia semakin bergantung pada ekspor bahan mentah, seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan besi baja, ada potensi terjadinya stagnasi dalam pengembangan sektor manufaktur dan produk bernilai tambah.
Indonesia berisiko terperangkap dalam peran sebagai negara penghasil sumber daya alam tanpa mampu mengangkat ekonomi domestik ke tingkat yang lebih tinggi dalam rantai nilai global.
Secara spesifik, ekspor Indonesia ke Cina—yang dominan dengan komoditas besi dan baja—rentan terhadap fluktuasi harga global. Ketergantungan pada ekspor bahan mentah ke Cina, yang merupakan negara dengan kebijakan ekonomi yang sering berubah, membawa ketidakpastian yang besar.
Ketika permintaan global atau kebijakan Cina sendiri mengalami penurunan, Indonesia bisa menghadapi kerugian besar, terutama dalam sektor yang bergantung pada ekspor komoditas.
Selain itu, meskipun BRICS secara teori membuka akses ke pasar besar seperti India dan Cina, keragaman anggota dalam blok ini justru dapat menimbulkan ketegangan internal. Keberagaman kepentingan dan orientasi ekonomi antar anggota BRICS dapat membuat kerjasama dalam jangka panjang menjadi lebih sulit.
Cina, sebagai kekuatan dominan dalam blok ini, memiliki kebijakan ekonomi yang seringkali berseberangan dengan kepentingan negara anggota lainnya. Dalam konteks ini, Indonesia perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam ketergantungan yang berpotensi merugikan dalam jangka panjang.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak geopolitik yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia. Ketegangan internasional yang melibatkan anggota BRICS, seperti Cina dengan negara-negara Barat, berpotensi memengaruhi hubungan dagang Indonesia, terutama jika negara ini terjebak dalam konfrontasi yang lebih besar antara kekuatan ekonomi dunia.
Ketegangan seperti ini bisa merusak posisi Indonesia yang ingin tetap netral atau menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak di luar blok BRICS.
Membangun Kekuatan Ekonomi Domestik: Tantangan Utama
Untuk menghindari potensi ketergantungan dan risiko yang datang dengan keanggotaan BRICS, Indonesia harus berfokus pada penguatan sektor domestik, bukan hanya mengeksploitasi peluang ekspor bahan mentah.
Investasi dalam pengembangan sektor manufaktur, teknologi, dan industri bernilai tambah harus menjadi prioritas. Tanpa diversifikasi ekonomi yang lebih dalam, Indonesia berisiko tetap menjadi negara eksportir bahan mentah tanpa daya saing yang signifikan di pasar global.
Lebih lanjut, Indonesia perlu memperkuat kebijakan luar negeri yang tidak hanya mengandalkan satu blok atau satu pasar, tetapi menjaga fleksibilitas untuk beradaptasi dengan dinamika ekonomi global yang cepat berubah.
Indonesia harus menjaga keseimbangan antara memperkuat hubungan dengan BRICS dan tetap membuka peluang bagi kemitraan ekonomi dengan negara-negara di luar blok tersebut.
Terlebih lagi, kebijakan yang mendorong daya saing produk Indonesia di pasar global—termasuk perbaikan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan inovasi teknologi—harus menjadi bagian integral dari strategi ekonomi Indonesia.
Peluang dan Risiko dalam Menavigasi BRICS
Bergabungnya Indonesia dengan BRICS tentu membuka banyak peluang, terutama dalam memperluas pasar ekspor dan mengurangi ketergantungan pada pasar AS dan Eropa.
Namun, langkah ini juga membawa tantangan yang tidak kalah besar, terutama dalam hal potensi ketergantungan baru pada pasar yang sangat dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi negara-negara besar dalam BRICS. Selain itu, risiko geopolitik yang muncul dari ketegangan internal BRICS dan hubungan Indonesia dengan negara-negara Barat harus diwaspadai.
Indonesia harus lebih dari sekadar memanfaatkan peluang ini; negara ini harus bersiap untuk menghadapinya dengan kebijakan ekonomi yang matang, yang tidak hanya bergantung pada keuntungan jangka pendek, tetapi juga menyiapkan infrastruktur dan sumber daya manusia untuk memenangkan persaingan global dalam jangka panjang.
BRICS bisa menjadi peluang strategis—tetapi hanya jika Indonesia mampu mengelola ketergantungan baru dengan bijak dan memanfaatkan momentum ini untuk membangun ekonomi yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan.