VINANSIA.COM – Kevin Hassett mungkin terlihat seperti ekonom rapi yang hidupnya penuh angka, grafik, dan secangkir kopi hitam tiap pagi. Tapi jangan salah, di balik kemeja birunya yang selalu licin, ada sosok nakal yang doyan menggoyang meja kekuasaan dengan ide-ide yang bikin para birokrat konservatif salah tingkah.
Lahir pada 20 Maret 1962 di Greenfield, Massachusetts, Hassett tumbuh sebagai anak baik-baik yang akhirnya menyelesaikan PhD Ekonomi dari University of Pennsylvania. Namun seiring perjalanan kariernya, terbukti bahwa teori ekonomi bukan satu-satunya hal yang ia kuasai. Ia juga ahli memicu perdebatan nasional.
Karirnya dimulai dari ranah akademik. Ya, tempat yang biasanya penuh diskusi panjang dan ego intelektual. Dari 1989 hingga 1994, ia mengajar di Columbia Business School. Di waktu bersamaan, ia juga sempat menjadi ekonom di Federal Reserve Board.
Di sinilah Hassett muda melihat langsung bagaimana ekonomi Amerika diracik, diaduk, dan disajikan ke publik seperti sup yang kadang panas, kadang hambar, tapi harus tetap disantap.
Setelah itu, ia pindah ke American Enterprise Institute (AEI) pada 1997. Nah, di sinilah sisi “nakal” Hassett makin terlihat. Fokusnya pada pajak dan pengeluaran pemerintah membuatnya jadi langganan politisi yang butuh ekonom untuk membenarkan kebijakan mereka atau minimal membuatnya terdengar pintar.
Tidak tanggung-tanggung, ia membantu kampanye John McCain, George W. Bush, dan Mitt Romney. Kalau ada kompetisi ekonom paling sering masuk dapur strategi Partai Republik, Hassett bisa jadi juaranya.
Seiring waktu, keberaniannya semakin menjadi-jadi. Ia masuk pemerintahan Donald Trump pada 2017 sebagai Ketua Council of Economic Advisers.
Selama dua tahun itu, Hassett adalah salah satu otak di balik kebijakan ekonomi yang kadang bikin pasar tersenyum, kadang bikin analis stres. Lalu pada 2020, saat pandemi membuat dunia jungkir balik, ia menjadi penasihat senior dalam respons ekonomi COVID-19, posisi yang menuntut kombinasi antara ketenangan profesor dan keberanian pilot tempur.
Kini, sejak Januari 2025, Hassett naik kelas lagi: Direktur National Economic Council (NEC). Ini bukan jabatan sembarangan. Ia memegang setir kebijakan ekonomi domestik dan internasional Amerika, termasuk sektor yang dulu dianggap anak tiri: aset digital.
Dan di sinilah cerita makin seru.
Hassett dan Kripto: Cinta Terlarang atau Strategi Jangka Panjang?
Di Washington, pejabat punya saham besar di perusahaan kripto itu seperti membawa korek ke dalam gudang kembang api. Tapi Hassett santai saja.
Ia punya saham Coinbase minimal $1 juta sampai $5 juta. Belum cukup? Ia juga menerima kompensasi $50.000 sebagai anggota dewan penasihat akademik dan regulasi Coinbase. Kalau bicara skin in the game, Hassett seperti orang yang bukan cuma main, tapi ikut buka kasino.
Dengan posisi barunya di Gedung Putih, ia memimpin kelompok kerja aset digital versi administrasi Trump. Kelompok ini disebut-sebut sebagai mesin perumusan kebijakan pro-kripto yang lebih frontal dari pemerintahan sebelumnya. Sederhananya: kalau sektor kripto ingin punya orang dalam, Hassettlah orangnya.
Sikapnya terhadap suku bunga? Dovish sampai membuat para hawkish Fed mendadak migrain. Ia mendorong pemotongan suku bunga agresif, kebijakan yang biasanya bikin Bitcoin tersenyum lebar karena investor jadi lebih berani masuk ke aset berisiko.
Di mata para analis seperti Juan Leon dari Bitwise, Hassett adalah semacam “katalis alami” untuk kenaikan pasar kripto.
Namun suara kritis juga tidak kalah lantang. Kepemilikan saham Coinbase membuat banyak pihak mengangkat alis. Bagaimana tidak?
Jika Donald Trump memilihnya sebagai Ketua Federal Reserve menggantikan Jerome Powell pada 2026, dunia bisa melihat sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya: seorang Chairman The Fed dengan tumpukan saham di perusahaan kripto—industri yang kebijakan moneternya bisa ikut terpengaruh oleh setiap tindakannya.
Di Washington, itu namanya conflict of interest deluxe edition.
Ambisi, Kripto, dan Kursi Panas The Fed
Sebagai kandidat kuat Ketua Federal Reserve favorit Trump, Hassett sedang dalam posisi manis: satu kaki di Gedung Putih, satu kaki lagi hampir masuk ke kantor The Fed.
Jika dia jadi duduk di sana, pengaruh eksekutif terhadap kebijakan moneter AS bisa meningkat signifikan. Dan meski The Fed tidak mengatur aset digital secara langsung, pandangan Hassett tentang inovasi kripto dan eksposur bank ke aset digital akan memberi warna baru dalam kebijakan-kebijakan penting.
Bagi komunitas kripto, Hassett ibarat malaikat pelindung yang turun dari langit sambil membawa whitepaper Bitcoin. Mereka percaya ia bisa menjadi katalis besar untuk lonjakan harga berikutnya—bukan karena ia memegang tongkat sihir, tapi karena ia punya kemampuan mempengaruhi arah kebijakan moneter terbesar di dunia.
Pada akhirnya, Kevin Hassett adalah kombinasi langka antara teknokrat, pengambil risiko, dan penggemar kripto garis keras yang berhasil menembus pusat kekuasaan AS. Dan jika skenario 2026 berjalan sesuai keinginan Trump, kita mungkin akan melihat era baru kebijakan moneter, era ketika The Fed tidak lagi sepenuhnya alergi terhadap Bitcoin.