Ketika Harga Bitcoin Turun Separuh, Data Blockchain Justru Menunjukkan Hal Menarik

Ketika Harga Bitcoin Turun Separuh, Data Blockchain Justru Menunjukkan Hal Menarik
Ketika Harga Bitcoin Turun Separuh, Data Blockchain Justru Menunjukkan Hal Menarik. (ilustrasi: pexels)

VINANSIA.COM – Beberapa bulan terakhir menjadi periode yang cukup berat bagi investor Bitcoin. Setelah sempat mencetak rekor harga tertinggi (All-Time High/ATH) di level US$126.080 pada Oktober 2025, harga Bitcoin kini sudah terkoreksi sekitar 50%.

Bahkan pada awal Juni 2026, Bitcoin sempat menyentuh area US$61.500 sebelum akhirnya kembali bergerak naik.

Kondisi ini membuat banyak investor bertanya-tanya: apa sebenarnya yang menyebabkan Bitcoin turun begitu dalam? Dan yang lebih penting, apakah harga saat ini sudah menjadi titik terendah atau masih berpotensi turun lagi?

Mari kita bahas dengan bahasa yang mudah dipahami.

Bitcoin Turun, Tapi Bukan Karena Satu Penyebab

Banyak orang mengira kejatuhan harga Bitcoin disebabkan oleh satu berita besar. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Menurut berbagai analisis pasar, setidaknya ada empat faktor besar yang terjadi hampir bersamaan dan akhirnya menekan pasar kripto.

1. Bank Sentral Amerika Serikat Masih Ketat
Salah satu faktor terbesar datang dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Saat inflasi masih tinggi, The Fed biasanya mempertahankan atau menaikkan suku bunga agar harga-harga kembali stabil.

Masalahnya, suku bunga tinggi membuat investor cenderung menarik uang dari aset berisiko seperti saham dan kripto, lalu memindahkannya ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Akibatnya, permintaan terhadap Bitcoin menjadi lebih rendah dibanding sebelumnya.

2. Ketegangan Politik Global
Faktor berikutnya berasal dari meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Ketika konflik geopolitik meningkat, harga minyak biasanya ikut naik karena pasar khawatir terhadap gangguan pasokan energi.

Harga energi yang lebih mahal berpotensi memicu inflasi baru, sehingga investor menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil risiko. Situasi seperti ini biasanya tidak hanya memengaruhi Bitcoin, tetapi juga pasar keuangan secara umum.

3. Investor Institusi Mulai Menarik Dana
Selama beberapa tahun terakhir, ETF Bitcoin Spot menjadi salah satu sumber permintaan terbesar bagi Bitcoin. Bagi yang belum familiar, ETF Bitcoin Spot adalah produk investasi yang memungkinkan investor membeli eksposur Bitcoin tanpa harus menyimpan Bitcoin secara langsung.

Namun pada Mei hingga awal Juni 2026, ETF Bitcoin mengalami arus keluar dana selama 13 hari berturut-turut. Total dana yang keluar mencapai sekitar US$4,4 miliar.

Ketika dana sebesar itu keluar dari pasar, tekanan jual tentu menjadi lebih besar.

4. MicroStrategy Sempat Menjual Bitcoin
Perusahaan yang kini dikenal sebagai Strategy (sebelumnya MicroStrategy) juga sempat membuat pasar terkejut. Perusahaan tersebut menjual sebagian kecil kepemilikan Bitcoin mereka untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.

Secara jumlah, penjualan tersebut sebenarnya tidak terlalu besar. Namun karena perusahaan ini dikenal sebagai salah satu pendukung Bitcoin terbesar di dunia, sentimen pasar langsung berubah negatif.

Menariknya, tidak lama setelah itu mereka kembali membeli sekitar 1.550 Bitcoin senilai lebih dari US$100 juta.

Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan mereka terhadap Bitcoin masih tetap kuat.

Data Inflasi Terbaru Membawa Sedikit Kabar Baik

Pada 10 Juni 2026, pemerintah Amerika Serikat merilis data inflasi atau Consumer Price Index (CPI). Bagi investor kripto, data ini sangat penting karena sering memengaruhi keputusan The Fed.

Hasilnya, inflasi tahunan berada di angka 4,2%, sesuai dengan perkiraan pasar. Karena tidak lebih buruk dari ekspektasi, pasar relatif tenang.

Bitcoin memang sempat turun ke sekitar US$61.500, tetapi kemudian berhasil pulih kembali ke area US$63.000.

Dengan kata lain, skenario terburuk yang dikhawatirkan investor tidak terjadi.

Apa Kata Data Blockchain?

Selain melihat berita ekonomi, banyak analis juga memantau data langsung dari jaringan Bitcoin atau yang sering disebut data on-chain. Sederhananya, data on-chain adalah informasi yang berasal langsung dari aktivitas pengguna di blockchain Bitcoin.

Beberapa indikator menunjukkan bahwa Bitcoin mulai memasuki area yang secara historis sering muncul dekat dasar siklus pasar.

1. Fear and Greed Index Masuk Zona Ketakutan.
Indikator Fear and Greed Index saat ini berada di level yang sangat rendah. Indikator ini digunakan untuk mengukur emosi pasar. Semakin rendah nilainya, semakin besar rasa takut yang dirasakan investor.

Menariknya, kondisi serupa pernah terjadi saat pasar mencapai titik terendah pada tahun 2018, 2020, dan 2022.

Namun perlu diingat, rasa takut yang tinggi tidak selalu berarti harga langsung naik setelahnya.

2. Harga Bitcoin Mendekati Biaya Rata-Rata Investor
Indikator lain yang disebut MVRV Z-Score juga menunjukkan bahwa harga Bitcoin mulai mendekati biaya rata-rata yang dibayarkan investor. Secara sederhana, kondisi ini menunjukkan bahwa Bitcoin tidak lagi berada di area yang terlalu mahal seperti saat puncak bull market.

3. Garis Dukungan Jangka Panjang Masih Bertahan
Analis juga memperhatikan indikator yang disebut 200-Week Moving Average. Kalau istilah ini terdengar rumit, anggap saja sebagai garis rata-rata harga Bitcoin selama hampir empat tahun terakhir.

Dalam sejarah Bitcoin, garis ini sering menjadi area pertahanan penting saat pasar mengalami koreksi besar. Sejauh ini, Bitcoin masih mampu bertahan di atas level tersebut.

Apakah Bitcoin Sudah Menyentuh Dasar?

Inilah pertanyaan yang paling sering muncul saat pasar sedang turun. Jawaban jujurnya: belum ada yang tahu.

Memang ada beberapa indikator yang menunjukkan bahwa Bitcoin mulai mendekati area harga yang menarik bagi investor jangka panjang.

Namun para analis mengingatkan bahwa indikator-indikator tersebut bukan jaminan bahwa harga tidak bisa turun lebih jauh. Bahkan dalam siklus sebelumnya, beberapa sinyal serupa sempat muncul sebelum Bitcoin kembali melanjutkan penurunannya.

Karena itu, investor tetap perlu berhati-hati.

Faktor Terpenting Saat Ini: Keputusan The Fed

Saat artikel ini dibuat, perhatian pasar tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC). FOMC adalah pertemuan para pejabat bank sentral Amerika Serikat untuk menentukan arah kebijakan suku bunga.

Yang menarik, pasar saat ini tidak terlalu fokus pada keputusan suku bunganya. Justru yang lebih diperhatikan adalah proyeksi kebijakan ke depan atau yang dikenal sebagai "dot plot".

Jika The Fed memberikan sinyal akan menurunkan suku bunga di masa depan, Bitcoin berpotensi mendapatkan sentimen positif.

Sebaliknya, jika The Fed memberikan sinyal akan menaikkan suku bunga lagi, tekanan terhadap aset berisiko bisa kembali meningkat.

Intisari

Penurunan Bitcoin sekitar 50% dari rekor tertingginya bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi beberapa tekanan sekaligus.

Mulai dari kebijakan The Fed yang masih ketat, ketegangan geopolitik, keluarnya dana dari ETF Bitcoin, hingga sentimen negatif akibat penjualan Bitcoin oleh perusahaan besar.

Meski demikian, beberapa indikator on-chain menunjukkan bahwa pasar mulai mendekati area yang dalam sejarah sering berdekatan dengan titik terendah siklus.

Namun investor perlu memahami bahwa tidak ada indikator yang mampu memastikan kapan harga benar-benar mencapai dasar.

Untuk saat ini, keputusan dan proyeksi kebijakan The Fed menjadi faktor yang paling berpotensi menentukan arah Bitcoin dalam jangka pendek.

Karena itu, daripada mencoba menebak titik terendah secara sempurna, banyak investor berpengalaman lebih memilih fokus pada strategi, manajemen risiko, dan investasi jangka panjang.

Sebab dalam dunia kripto, yang paling penting bukan sekadar membeli di harga terendah, tetapi mampu bertahan hingga siklus berikutnya tiba.

#kripto

Index

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index