Harga Bitcoin Turun 50% dari ATH, Saatnya Akumulasi atau Masih Ada Risiko Turun ke US$30.000?

Harga Bitcoin Turun 50% dari ATH, Saatnya Akumulasi atau Masih Ada Risiko Turun ke US$30.000?
Harga Bitcoin Turun 50% dari ATH, Saatnya Akumulasi atau Masih Ada Risiko Turun ke US$30.000? (ilustrasi: pexels)

VINANSIA.COM – Harga Bitcoin kembali menjadi perbincangan hangat setelah mengalami koreksi sekitar 50% dari rekor tertingginya di level US$126.198 yang tercapai pada Oktober 2025.

Kondisi seperti ini selalu memunculkan pertanyaan yang sama di kalangan investor. Apakah ini momen terbaik untuk mulai membeli Bitcoin? Atau justru pasar masih menyimpan potensi penurunan yang lebih dalam?

Jawabannya tentu tidak sesederhana ya atau tidak. Namun jika melihat sejarah Bitcoin selama lebih dari satu dekade terakhir, ada beberapa pelajaran penting yang bisa menjadi bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan.

Salah satu alasan mengapa banyak investor tetap optimis terhadap Bitcoin adalah rekam jejaknya yang cukup konsisten.

Sejak 2011, Bitcoin telah mengalami empat siklus bear market besar dengan penurunan harga lebih dari 75%. Menariknya, setiap siklus tersebut selalu berakhir dengan pencapaian All-Time High (ATH) baru.

Berikut ringkasan perjalanan Bitcoin selama beberapa siklus terakhir:

SiklusPenurunan MaksimumWaktu Pulih ke ATH Baru
2011-94%Sekitar 1 tahun
2015-87%Sekitar 490 hari
2018–2019-84%Hampir 3 tahun
2022-78%Sekitar 2 tahun
2026 (sementara)-51%Masih berlangsung

Data tersebut menunjukkan bahwa Bitcoin memang memiliki sejarah pemulihan yang kuat. Namun ada satu hal yang sering dilupakan investor: proses pemulihan membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Bahkan pada siklus 2018, investor harus menunggu hampir tiga tahun sebelum harga kembali mencetak rekor tertinggi baru.

Jika melihat pola historis, setiap siklus bear market Bitcoin cenderung mengalami penurunan yang semakin dangkal.

Pada 2011, harga sempat anjlok hingga 94%. Angka tersebut berkurang menjadi 87% pada 2015, kemudian 84% pada 2018, dan 78% pada 2022.

Sementara itu, koreksi yang terjadi saat ini baru berada di kisaran 51%.

Jika pola historis tersebut masih berlaku, beberapa analis memperkirakan dasar siklus saat ini berpotensi berada di area penurunan 65% hingga 76% dari ATH sebelumnya.

Apabila skenario tersebut terjadi, maka harga Bitcoin berpotensi menguji area US$30.000 hingga US$45.000 sebelum menemukan titik terendah siklus.

Tentu saja ini bukan prediksi pasti, melainkan sekadar proyeksi berdasarkan pola yang pernah terjadi sebelumnya.

Meski pasar sedang mengalami tekanan, ada beberapa faktor yang membuat sebagian investor tetap mempertahankan pandangan bullish.

1. Bitcoin Selalu Bangkit dari Krisis

Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali Bitcoin mengalami bear market besar, aset ini pada akhirnya berhasil mencetak ATH baru.

Meskipun tidak menjamin masa depan, rekam jejak ini menjadi salah satu alasan utama mengapa investor jangka panjang tetap percaya terhadap potensi Bitcoin.

2. Kondisi Teknikal Mulai Oversold

Beberapa indikator teknikal menunjukkan bahwa Bitcoin sempat memasuki area oversold yang cukup ekstrem.

Dalam beberapa siklus sebelumnya, kondisi seperti ini sering diikuti oleh relief rally atau pemantulan harga dalam jangka pendek.

3. Dukungan ETF Bitcoin Spot

Berbeda dengan siklus-siklus sebelumnya, pasar saat ini memiliki faktor baru berupa ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat.

Secara kolektif, ETF tersebut kini menguasai lebih dari satu juta Bitcoin, menciptakan sumber permintaan institusional yang sebelumnya tidak pernah ada dalam sejarah pasar kripto.

4. Strategi DCA Semakin Populer

Banyak investor memilih menggunakan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dibanding mencoba menebak titik terendah pasar.

Dengan metode ini, pembelian dilakukan secara bertahap dalam nominal yang sama, sehingga risiko salah menentukan waktu masuk pasar dapat dikurangi.

Namun Risiko Belum Sepenuhnya Hilang

Di balik berbagai alasan optimisme tersebut, masih ada sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.

Arus Keluar ETF Masih Tinggi

Dalam beberapa minggu terakhir, ETF Bitcoin Spot mencatat arus keluar dana mencapai miliaran dolar AS.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian investor institusi masih memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Bitcoin Berada di Bawah Moving Average Penting

Secara teknikal, Bitcoin masih diperdagangkan di bawah beberapa moving average utama seperti EMA 20 hari, 50 hari, dan 100 hari.

Kondisi tersebut biasanya mencerminkan tren jangka pendek yang masih cenderung bearish.

Kebijakan The Fed

Prospek kenaikan suku bunga Amerika Serikat masih menjadi ancaman bagi pasar aset berisiko.

Ketika suku bunga meningkat, likuiditas di pasar keuangan biasanya berkurang sehingga minat terhadap aset spekulatif juga cenderung melemah.

Banyak investor menganggap DCA sebagai solusi aman saat pasar sedang turun. Namun penting untuk memahami bahwa strategi ini tidak menghilangkan risiko kerugian.

Sebagai contoh, seseorang membeli Bitcoin senilai Rp1 juta setiap bulan selama enam bulan.

Jika harga Bitcoin turun dari US$48.000 ke US$35.000 lalu kembali naik ke US$44.000, rata-rata harga pembelian akan lebih rendah dibandingkan membeli sekaligus di awal.

Namun jika harga terus turun hingga US$25.000, investor tetap akan mengalami kerugian meskipun menggunakan metode DCA.

Dengan kata lain, DCA membantu mengurangi risiko salah timing, tetapi tidak dapat melindungi portofolio dari penurunan harga yang berkepanjangan.

Bitcoin saat ini telah turun sekitar 50% dari puncak harga tertingginya di Oktober 2025. Jika melihat sejarah, kondisi seperti ini bukanlah sesuatu yang baru bagi aset kripto terbesar di dunia tersebut.

Data historis menunjukkan bahwa Bitcoin selalu berhasil bangkit dari setiap bear market besar yang pernah terjadi. Namun sejarah juga mengajarkan bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu antara satu hingga tiga tahun.

Di satu sisi, terdapat alasan untuk tetap optimis seperti kondisi teknikal yang mulai oversold, dukungan ETF Bitcoin Spot, serta rekam jejak pemulihan yang kuat. Namun di sisi lain, investor juga perlu memperhatikan risiko berupa arus keluar ETF, kebijakan suku bunga, dan kemungkinan koreksi lanjutan menuju area yang lebih rendah.

Bagi investor jangka panjang, fokus utama seharusnya bukan menebak titik terendah pasar, melainkan membangun strategi yang konsisten dan sesuai dengan toleransi risiko masing-masing.

Karena pada akhirnya, peluang terbesar sering kali muncul ketika pasar sedang dipenuhi ketakutan. Namun seperti biasa, tidak ada jaminan bahwa sejarah akan terulang persis seperti sebelumnya.

#kripto

Index

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index