Alasan Harga Bitcoin Belum Meroket Menurut Arthur Hayes

Jumat, 19 Juni 2026 | 17:10:06 WIB
Alasan Harga Bitcoin Belum Meroket Menurut Arthur Hayes. (ilustrasi: pexels)

VINANSIA.COM – Bitcoin masih menjadi salah satu aset dengan performa terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Namun jika dibandingkan dengan ekspektasi banyak investor, kenaikan harganya dianggap belum semasif yang diperkirakan. 

Di tengah derasnya arus dana institusional dan semakin banyaknya perusahaan besar yang masuk ke dunia kripto, muncul pertanyaan yang cukup menarik. Ke mana sebenarnya sebagian besar uang investor saat ini mengalir?

Arthur Hayes, pendiri BitMEX sekaligus Chief Investment Officer Maelstrom, punya jawabannya. Menurutnya, uang yang seharusnya bisa mendorong Bitcoin naik lebih tinggi justru sedang tersedot ke sektor Artificial Intelligence atau AI.

Hayes melihat bahwa sejak ledakan teknologi AI generatif beberapa tahun terakhir, investor global berbondong-bondong menggelontorkan dana ke perusahaan teknologi, startup AI, produsen chip, hingga pembangunan pusat data raksasa. 

Nilai investasi yang masuk ke sektor ini mencapai angka yang fantastis, bahkan diperkirakan menembus US$1,5 triliun.

Jumlah tersebut tentu bukan angka kecil. Dalam pandangan Hayes, jika sebagian dana itu tidak masuk ke AI, kemungkinan besar sebagian akan mengalir ke aset-aset alternatif seperti Bitcoin dan pasar kripto secara umum.

Fenomena ini membuat Bitcoin harus berbagi perhatian dengan sektor yang saat ini dianggap memiliki potensi pertumbuhan terbesar di dunia. Jika beberapa tahun lalu narasi investasi terbesar adalah blockchain dan aset digital, kini panggung utama diambil alih oleh AI.

Meski demikian, Hayes menegaskan bahwa kondisi ini bukan berarti Bitcoin kehilangan daya tarik. Justru sebaliknya. Bitcoin tetap menjadi aset yang diminati banyak investor besar. Hanya saja, saat ini terdapat kompetitor baru yang sama-sama mampu menarik likuiditas dalam jumlah besar.

Ibaratnya ada dua magnet raksasa yang sedang berada di satu ruangan. Magnet pertama adalah Bitcoin sebagai aset digital terbesar di dunia. 

Magnet kedua adalah AI yang menjanjikan revolusi teknologi di hampir semua sektor industri. Ketika investor harus memilih ke mana uang mereka akan ditempatkan, sebagian besar saat ini lebih tertarik mengejar peluang di sektor AI.

Namun bagian paling menarik dari pandangan Hayes bukanlah soal AI yang sedang populer. Ia justru lebih fokus pada apa yang akan terjadi ketika euforia tersebut mulai mereda.

Menurut Hayes, sejarah menunjukkan bahwa setiap sektor yang mengalami ledakan investasi besar biasanya akan menghadapi fase koreksi. Hal yang sama berpotensi terjadi pada industri AI. Ketika valuasi perusahaan-perusahaan AI terus naik tanpa diimbangi pertumbuhan yang sepadan, pasar pada akhirnya bisa melakukan penyesuaian.

Jika gelembung investasi AI pecah atau setidaknya mengalami koreksi besar, Hayes percaya dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan teknologi. Pasar keuangan global juga bisa ikut terguncang.

Di sinilah Bitcoin kembali masuk ke dalam cerita.

Hayes berpendapat bahwa ketika krisis muncul, bank sentral biasanya akan merespons dengan cara yang sudah sering dilakukan sebelumnya, yaitu meningkatkan likuiditas dan melonggarkan kebijakan moneter. Ketika uang baru kembali mengalir ke sistem keuangan, aset-aset yang memiliki karakteristik langka seperti Bitcoin berpotensi menjadi salah satu tujuan utama investor.

Dalam skenario tersebut, Bitcoin justru bisa mendapatkan dorongan yang jauh lebih besar dibandingkan kondisi saat ini.

Hayes bahkan menghubungkan perkembangan AI dengan potensi risiko ekonomi yang lebih luas. Menurutnya, jika teknologi AI berhasil menggantikan banyak pekerjaan manusia dalam waktu singkat, maka akan muncul tantangan baru bagi perekonomian. Berkurangnya jumlah pekerja dapat berdampak pada kemampuan masyarakat membayar kredit, cicilan rumah, hingga pinjaman konsumtif lainnya.

Jika risiko gagal bayar meningkat dalam skala besar, tekanan terhadap sistem perbankan bisa ikut membesar. Pada akhirnya, pemerintah dan bank sentral mungkin harus turun tangan melalui berbagai program stimulus untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Bagi Hayes, setiap kali likuiditas global meningkat, Bitcoin biasanya menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan.

Pandangan ini cukup menarik karena mengajak investor kripto untuk melihat pasar dari sudut pandang yang lebih luas. Selama ini banyak orang hanya fokus pada data inflasi, suku bunga Federal Reserve, atau pergerakan pasar kripto itu sendiri. Padahal ada faktor lain yang kini memiliki pengaruh besar terhadap aliran modal dunia, yaitu perkembangan AI.

Saat ini, perusahaan-perusahaan teknologi berlomba membangun infrastruktur AI dengan nilai investasi yang sangat besar. Selama tren tersebut masih berlangsung, sebagian likuiditas kemungkinan akan tetap mengalir ke sektor tersebut.

Namun pasar selalu bergerak dalam siklus. Ketika satu sektor menjadi terlalu panas, investor biasanya mulai mencari peluang baru di tempat lain. 

Jika suatu hari nanti euforia AI mulai mereda, Bitcoin berpotensi menjadi salah satu aset yang kembali mendapatkan sorotan utama.

Dari sudut pandang makroekonomi, pendapat Hayes sebenarnya menggambarkan persaingan dua narasi investasi terbesar dekade ini. Di satu sisi ada AI yang menjanjikan revolusi teknologi. Di sisi lain ada Bitcoin yang menawarkan sistem keuangan digital dengan suplai terbatas.

Untuk saat ini, AI mungkin sedang memenangkan perhatian investor global. Namun jika melihat sejarah pasar, narasi yang paling populer tidak selalu menjadi pemenang selamanya.

Karena itu, investor kripto sebaiknya tidak hanya memantau grafik harga Bitcoin setiap hari. Perkembangan industri AI juga layak diperhatikan karena sektor inilah yang saat ini sedang menyedot sebagian besar likuiditas dunia.

Jika Arthur Hayes benar, maka koreksi besar di sektor AI suatu hari nanti bisa menjadi salah satu katalis terbesar yang pernah dimiliki Bitcoin dalam perjalanan menuju level harga yang lebih tinggi.

Tags

Terkini