3 Investor Dunia yang Pernah Nyangkut 50% Lebih saat Market Crash, Kini Jadi Triliuner!

3 Investor Dunia yang Pernah Nyangkut 50% Lebih saat Market Crash, Kini Jadi Triliuner!
3 Investor Dunia yang Pernah Nyangkut 50% Lebih saat Market Crash, Kini Jadi Triliuner! (ilustrasi: pexels)

VINANSIA.COM – Saat ini mungkin kamu melihat portofolio saham yang mendadak merah membara, lalu rasanya pengen langsung tutup aplikasi dan pura-pura lupa ingatan.

Tenang, kamu gak sendirian. Bagi investor ritel, melihat aset turun 5% atau 10% aja udah bikin jantungan dan susah tidur. Mental kita pasti langsung diuji kalau market tiba-tiba jeblok alias market crash. Di momen-momen horor seperti itu, isi kepala biasanya cuma satu: "Jual sekarang sebelum jadi gembel, atau bertahan tapi makin stres?"

Tapi, tahu gak sih? Para master investasi dunia yang sekarang kekayaannya bikin geleng-geleng kepala ternyata juga pernah nangis darah.

Mereka bukan dukun yang bisa menebak masa depan dengan selalu beli di harga paling bawah. Mereka manusia biasa yang portofolionya pernah boncos, floating loss, bahkan hancur lebur di atas 50% hingga 90%!

Bedanya, ketika orang lain panic selling dan lari ketakutan, para investor sukses ini justru punya mental sekeras baja. Yuk, kita bedah cerita 3 investor legendaris yang sempat "nyangkut berdarah-darah" tapi malah berakhir jadi miliarder, lewat gaya bahasa yang santai dan anti-pusing.

1. Mohnish Pabrai: Ketika Murid Warren Buffett Merugi 60% Lebih

Kalau kamu suka baca buku tentang value investing, nama Mohnish Pabrai pasti udah gak asing lagi. Pria keturunan India-Amerika ini terkenal karena kesuksesannya menggandakan uang lewat metode investasi yang diadopsi dari Warren Buffett. Tapi, sepintar-pintarnya Pabrai, dia tetap kena batunya pas Krisis Finansial Global tahun 2008.

Detik-Detik Portofolio Jadi "Diskonan"

Waktu krisis subprime mortgage menghantam AS pada 2008, bursa saham global rontok tanpa ampun. Dana kelolaan Pabrai, yaitu Pabrai Investment Funds, ikut terseret arus. Gak tanggung-tanggung, nilai portofolionya anjlok sekitar 60% sampai 67% dari titik puncaknya. Bayangkan, kalau kamu punya uang Rp100 juta, uang itu mendadak tinggal Rp33 juta saja dalam hitungan bulan!

Saham-saham komoditas dan finansial yang dipegang Pabrai hancur lebur. Banyak investor institusi lain yang mulai menyalahkan strateginya dan ikutan panik.

Jurus Bertahan: Matikan Layar Monitor!

Apa yang dilakukan Pabrai saat melihat uangnya menguap lebih dari separuh? Apakah dia langsung cut loss? Jawabannya: Tidak.

Sikap Pabrai justru sangat unik. Dia tahu kalau melihat harga saham turun naik tiap detik bakal merusak psikologisnya. Jadi, dia memilih untuk mematikan layar monitor trading-nya dan berhenti melihat harga pasar harian.

Pabrai fokus membedah ulang laporan keuangan dari bisnis-bisnis yang dia miliki. Dia bertanya pada diri sendiri: "Apakah perusahaan yang saya beli ini beneran bakal bangkrut, atau harganya aja yang turun karena orang-orang lagi panik massal?" Begitu dia yakin fundamental perusahaannya masih sehat dan punya kas yang aman, dia memilih tutup kuping.

Benar saja, saat badai krisis mereda di tahun 2009-2010, pasar saham mulai sadar dan kembali rasional. Portofolio Pabrai langsung melesat naik (rebound) secara agresif, mencetak rekor tertinggi baru, dan memberikan cuan ratusan persen buat investor yang setia bersamanya.

2. Charlie Munger: "Kalau Gak Kuat Minus 50%, Jangan Main Saham!"

Mendiang Charlie Munger adalah tangan kanan sekaligus otak di balik kejeniusan Warren Buffett di Berkshire Hathaway. Munger terkenal dengan ucapan pedasnya yang legendaris:

"Kalau kamu gak bisa bertahan melihat harga sahammu turun 50% dengan tenang, kamu gak cocok jadi investor saham."

Kalimat ini bukan sekadar teori buat nakut-nakutin investor pemula. Munger sendiri sudah kenyang mencicipi rasanya boncos setengah mati pas krisis Bear Market tahun 1973–1974.

Boncos Beruntun Dua Tahun Jagoan Wall Street

Sebelum fokus 100% menemani Buffett, Munger mengelola hedge fund-nya sendiri bernama Wheeler, Munger & Co. Pada tahun 1973, bursa saham AS dihantam krisis minyak dan inflasi tinggi. Portofolio Munger minus 31,9%. Belum sempat napas, tahun 1974 pasar makin parah dan portofolionya minus lagi 31,5%.

Secara total kumulatif, kekayaan di dana kelolaannya merosot di atas 53%. Emiten andalannya seperti Blue Chip Stamps hancur dihajar pasar. Klien-klien Munger mulai kirim surat cinta bernada panik, mendesak dia buat keluar dari pasar modal.

Sikap Baja Munger: Rugi Harga, Bukan Rugi Mental

Munger tetaplah Munger, pria dengan logika super kaku yang ogah disetir oleh emosi pasar. Dia menolak keras buat menjual sahamnya di harga bawah.

Dia tahu nilai intrinsik (harga wajar yang sesungguhnya) dari bisnis yang dia beli jauh lebih tinggi daripada harga yang tertera di papan bursa saat itu.

Namun, karena tekanan psikologis dari para investor titipan yang terus-menerus panik, Munger akhirnya memutuskan membubarkan kemitraan tersebut pada tahun 1976.

Tapi ingat, dia gak menjual rugi sahamnya ke pasar. Sisa saham yang ada langsung dia bagikan ke para investornya dalam bentuk lembaran saham untuk disimpan masing-masing.

Di kemudian hari, sisa-sisa aset dari masa krisis inilah yang menjadi cikal bakal kekuatan raksasa Berkshire Hathaway. Munger membuktikan kalau kesabaran itu pahit, tapi buahnya sangat manis.

3. Masayoshi Son: Kehilangan Rp1.100 Triliun, Bangkit Lewat Taruhan Alibaba

Kalau Pabrai dan Munger rugi di angka 50%-an, mari kita lihat level yang jauh lebih ekstrem. Masayoshi Son, bos dari SoftBank asal Jepang, memegang rekor dunia sebagai orang yang pernah kehilangan uang pribadi paling banyak dalam sejarah umat manusia!

Tragedi Pecahnya Gelembung Dot-Com Tahun 2000

Di akhir tahun 1990-an, tren internet lagi gila-gilanya. Semua saham yang ada embel-embel ".com" atau teknologi harganya naik ribuan persen meski perusahaannya belum menghasilkan profit sepeser pun. Masayoshi Son yang rajin berinvestasi di perusahaan startup teknologi mendadak kaya raya, bahkan sempat jadi orang terkaya di dunia selama 3 hari. Kekayaan bersih pribadinya menyentuh $78 miliar.

Lalu, bencana datang pada tahun 2000. Gelembung teknologi itu pecah (Dot-com crash). Saham-saham teknologi berguguran bak daun kering.

Nilai perusahaan SoftBank runtuh total hingga menyisakan kurang dari 1% sampai 7% saja dari harga puncaknya. Kekayaan pribadi Son anjlok dari $78 miliar menjadi tinggal $1,1 miliar. Dia kehilangan sekitar $77 miliar (setara Rp1.100 triliun lebih)!

Bangkit dari Kubur Lewat Visi Masa Depan

Bagi orang biasa, kehilangan uang sebanyak itu pasti bikin trauma seumur hidup dan kapok investasi lagi. Tapi Masayoshi Son punya mental yang berbeda. Dia tetap setia pada keyakinannya bahwa internet adalah masa depan dunia.

Di tengah puing-puing kehancuran tahun 2000, saat semua orang menganggap bisnis internet adalah penipuan, Son justru mengambil keputusan paling gila sekaligus paling jenius dalam sejarah.

Dia menemani seorang guru bahasa Inggris asal China bernama Jack Ma, dan memutuskan menyuntikkan modal sebesar $20 juta ke perusahaan e-commerce kecil yang baru merintis bernama Alibaba.

Uang $20 juta di tengah masa krisis itu dipegang erat-erat oleh Son. Belasan tahun kemudian, saat Alibaba melantai di bursa efek AS (IPO) pada tahun 2014, nilai saham milik SoftBank meroket menjadi di atas $130 miliar (sekitar Rp2.000 triliun lebih)!

Taruhan tunggal di masa krisis ini tidak hanya menyelamatkan SoftBank dari kebangkrutan, tapi juga mengembalikan status Masayoshi Son sebagai salah satu raja investasi digital dunia.

Apa Rahasia Mereka Bisa Selamat?

Melihat kisah tiga mentor di atas, ada benang merah yang bisa kita pelajari sebagai investor ritel agar tidak gampang jantungan saat market sedang merah:

Jangan Pakai Uang Panas (No Leverage): Alasan kenapa Pabrai, Munger, dan Son bisa bertahan saat asetnya turun di atas 50% adalah karena mereka tidak dikejar utang atau margin call.

Kalau kamu beli saham pakai uang pinjol atau uang bayar sekolah anak, kamu pasti bakal terpaksa jualan di harga bawah karena butuh uangnya segera.

Fokus pada Bisnis, Bukan Harga Saham: Harga saham di aplikasi itu cuma mencerminkan emosi psikologis orang awam di hari itu. Kalau bisnisnya masih jualan, masih untung, dan manajemennya jujur, penurunan harga saham justru adalah kesempatan emas buat "belanja diskonan".

Miliki Visi Jangka Panjang: Fluktuasi pasar dalam hitungan bulan atau tahun adalah hal yang wajar. Investor sukses selalu melihat ke depan dalam horizon waktu 5 sampai 10 tahun.

Jadi, kalau nanti portofolio kamu mendadak minus dan berwarna merah merona, jangan langsung panik dan buru-buru pencet tombol sell.

Tarik napas dalam-dalam, ingat kisah Masayoshi Son atau Charlie Munger, dan tanyakan pada dirimu: "Apakah ini akhir dari dunia, atau justru ini saatnya saya beli saham bagus di harga murah?"

#saham

Index

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index