Warren Buffett Tulis Pesan ini Ketika Pasar Saham Berjatuhan

Selasa, 09 Juni 2026 | 15:10:51 WIB
Warren Buffett Tulis Pesan ini Ketika Pasar Saham Berjatuhan. (ilustrasi: gemini AI)

VINANSIA.COM – Melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus-menerus memerah dalam beberapa bulan terakhir di tahun 2026 ini, rasanya wajar kalau mental kita sebagai investor ritel mulai goyah.

Isu ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga aksi jual masif oleh investor asing membuat layar portofolio lokal kita terlihat sangat mencekam.

Di saat-saat seperti ini, desakan untuk melakukan panic selling demi mengamankan sisa dana sering kali terasa begitu kuat, sementara uang tunai (cash) mendadak terlihat seperti penyelamat paling aman.

Namun, sebelum kamu buru-buru menekan tombol cut loss, ada baiknya kita mengambil jeda dan menengok kembali sejarah penasihat investasi terbaik dunia.

Kita flashback ke Oktober 2008, saat krisis finansial global sedang ganas-ganasnya dan bursa saham AS rontok tanpa ampun.

Saat itu, Warren Buffett menulis sebuah esai opini legendaris di The New York Times. Alih-alih ikut panik, bos Berkshire Hathaway ini justru mengumumkan bahwa ia sedang sibuk memborong saham.

Berikut adalah terjemahan opini Warren Buffett, yang rasanya sangat pas untuk mendinginkan kepala kita yang sedang pusing melihat kondisi IHSG saat ini:

Beli Saham Amerika. Itu yang Lagi Saya Lakukan.

Oleh: Warren E. Buffett

Omaha -- Dunia keuangan lagi kacau balau, baik di Amerika Serikat maupun di luar negeri. Parahnya lagi, masalah finansial ini sudah mulai bocor dan merembes ke sektor ekonomi riil, dan rembesan itu sekarang sudah berubah jadi banjir bandang. Dalam jangka pendek, angka pengangguran bakal naik, aktivitas bisnis bakal tersendat, dan berita-berita di media bakal terus terlihat menakutkan.

Jadi... makanya saya malah lagi sibuk beli saham-saham Amerika. Ini saya lagi ngomongin rekening pribadi saya sendiri ya, yang sebelumnya cuma saya isi pakai obligasi pemerintah AS. (Catatan ya, ini di luar kepemilikan saya di Berkshire Hathaway, yang semuanya sudah dialokasikan untuk kegiatan amal). Kalau harga-harga saham terus terlihat menarik seperti sekarang, dalam waktu dekat seluruh kekayaan bersih pribadi saya di luar Berkshire bakal 100 persen berwujud saham Amerika.

Kenapa?

Ada satu aturan simpel yang jadi patokan saya dalam membeli: Takutlah ketika orang lain serakah, dan serakah lah ketika orang lain takut. Dan yang pasti, rasa takut sekarang lagi menyebar ke mana-mana, bahkan mencengkeram para investor kawakan sekalipun. Memang betul, investor wajib waspada terhadap perusahaan yang utangnya kebanyakan atau yang bisnisnya gak punya daya saing. 

Tapi, kalau sampai takut sama masa depan jangka panjang dari perusahaan-perusahaan yang fundamentalnya sehat, itu namanya gak masuk akal. Perusahaan-perusahaan ini emang bakal mengalami penurunan laba sementara waktu—ya namanya juga bisnis, dari dulu kan begitu. Tapi, mayoritas perusahaan besar bakal mencetak rekor keuntungan baru dalam 5, 10, atau 20 tahun dari sekarang.

Biar saya perjelas satu hal: Saya gak bisa memprediksi pergerakan jangka pendek dari pasar saham. Saya gak punya gambaran sama sekali apakah harga saham bakal lebih tinggi atau lebih rendah dalam sebulan atau setahun dari sekarang. 

Namun, yang kemungkinan besar terjadi adalah pasar saham bakal melesat naik, bahkan bisa naik tinggi banget, jauh sebelum sentimen publik atau kondisi ekonomi riil membaik.

Jadi, kalau kamu baru mau beli saham nunggu sampai keadaan benar-benar aman (ibarat nunggu burung-burung robin datang berkicau), ya momen musim seminya keburu lewat.

Mari kita tengok sejarah sedikit: Selama masa Depresi Besar (1930-an), indeks Dow Jones menyentuh titik terendahnya di angka 41 pada 8 Juli 1932. Padahal, kondisi ekonomi aslinya terus memburuk sampai Franklin D. Roosevelt resmi menjabat presiden di Maret 1933.

Tapi coba lihat, pas presiden baru menjabat, pasar saham ternyata udah curi start dan naik duluan 30 persen! Atau coba ingat-ingat lagi masa-masa awal Perang Dunia II, ketika posisi Amerika lagi terdesak di Eropa dan Pasifik.

Pasar saham menyentuh titik terendah (bottom) pada April 1942, jauh sebelum nasib pasukan Sekutu berbalik unggul. Begitu juga di awal tahun 1980-an, waktu terbaik buat borong saham adalah pas inflasi lagi gila-gilaan dan ekonomi lagi hancur lebur.

Singkatnya, berita buruk adalah sahabat terbaik buat investor. Berita buruk bikin kamu bisa beli masa depan sebuah negara dengan harga diskon besar-besaran.

Dalam jangka panjang, berita dari pasar saham itu bakal selalu bagus. Di abad ke-20, Amerika berhasil melewati dua perang dunia dan konflik militer traumatis lainnya yang berbiaya mahal; melewati Depresi Besar; belasan kali resesi dan kepanikan finansial; krisis minyak; epidemi flu; hingga mundurnya seorang presiden karena skandal. Toh, indeks Dow Jones tetap bisa meroket dari angka 66 naik jadi 11.497 di akhir abad.

Kamu mungkin mikir, mustahil banget ada investor yang bisa rugi di tengah pertumbuhan abad yang luar biasa kayak gitu. Tapi nyatanya, tetep aja ada investor yang merugi! Investor yang apes itu adalah mereka yang baru berani beli saham cuma pas mereka merasa nyaman, lalu langsung buru-buru jualan pas baca berita utama di media bikin mereka mual dan jantungan.

Hari ini, orang-orang yang memegang uang tunai (atau aset setara kas) merasa sangat nyaman. Padahal harusnya mereka gak boleh senyaman itu. Mereka sebenarnya udah memilih aset jangka panjang yang buruk, aset yang bunganya hampir nol dan nilainya sudah pasti digerus oleh inflasi.

Malahan, kebijakan-kebijakan yang bakal diambil pemerintah buat meredakan krisis saat ini kemungkinan besar bakal memicu inflasi, yang ujung-ujungnya mempercepat penurunan nilai riil dari tabungan tunai mereka.

Saham hampir pasti bakal mengalahkan performa uang tunai dalam satu dekade ke depan, bahkan mungkin dengan selisih yang lumayan jauh. Investor yang sekarang keukeuh megang uang tunai sebenarnya lagi berspekulasi/bertaruh kalau mereka nanti bisa tahu kapan waktu yang tepat buat membelanjakan uang itu lagi.

Padahal, demi menunggu kenyamanan dari sebuah "berita bagus", mereka mengabaikan nasihat bijak dari pemain hoki legendaris Wayne Gretzky: “Saya meluncur ke arah ke mana bola hoki bakal bergulir, bukan ke tempat di mana bola itu berada sebelumnya.”

Saya sebenarnya gak suka ngasih opini tentang pasar saham, dan sekali lagi saya tegaskan kalau saya gak tahu pasar saham bakal gimana dalam jangka pendek.

Meskipun begitu, saya mau meniru slogan dari sebuah restoran yang kebetulan buka di bekas gedung bank yang udah kosong. Mereka pasang iklan begini: “Taruh mulutmu di tempat uangmu dulu berada.” Hari ini, uang saya dan omongan saya sama-sama kompak bilang: beli saham.

Tags

Terkini