Senasib PMMP, Ini 5 Emiten dengan Utang Jumbo

Rabu, 08 Juli 2026 | 20:04:41 WIB
Senasib PMMP, Ini 5 Emiten dengan Utang Jumbo. (pexels)

VINANSIA.COM – PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) belakangan ini menjadi perbincangan hangat. Emiten eksportir udang ini sedang terseok-seok menghadapi krisis likuiditas.

beban utang bank menembus Rp2,8 triliun, operasional pabrik menyusut, hingga terpaksa menjual aset ratusan miliar rupiah demi menyambung napas perusahaan.

Dalam dunia investasi, kondisi yang dialami PMMP ini dikenal sebagai krisis going concern, sebuah situasi di mana kelangsungan hidup perusahaan terancam jika tidak segera melakukan perbaikan keuangan yang radikal.

Namun, PMMP tidak sendirian.

Di Bursa Efek Indonesia (BEI), ada beberapa emiten lain yang nasibnya serupa—bahkan beberapa di antaranya memiliki skala bisnis yang jauh lebih besar.

Berdasarkan data laporan keuangan resmi dan keterbukaan informasi publik, berikut adalah 5 emiten yang saat ini sedang berjuang keras keluar dari jerat utang masif:

1. PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT)

Kondisi Utama: Suspensi Saham & Krisis Utang Infrastruktur

Beban Utang: Kisaran Rp81 triliun – Rp82 triliun

Waskita Karya adalah salah satu raksasa BUMN konstruksi yang paling terpukul oleh agresifnya pembangunan infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir. Pendanaan proyek yang mayoritas berasal dari utang bank dan obligasi kini menjadi bom waktu. Akibat gagal membayar bunga obligasi tepat waktu, BEI mengunci perdagangan saham WSKT (suspensi) selama lebih dari setahun.

Meskipun WSKT mengantongi piutang usaha dari pemberi kerja sekitar Rp12 triliun, pencairannya memakan waktu lama karena harus menunggu penyelesaian termin proyek. Saat ini, manajemen fokus penuh menegosiasikan Master Restructuring Agreement (MRA) untuk memperpanjang napas pembayaran utang mereka sebesar puluhan triliun rupiah.

2. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)

Kondisi Utama: Kerugian Akibat Beban Bunga & Restrukturisasi Massal

Beban Utang: Kisaran Rp56 triliun (dengan utang finansial murni sekitar Rp30 triliun)

"Saudara kandung" dari WSKT ini juga mengalami nasib yang hampir mirip. WIKA mencatatkan total kewajiban yang sangat besar, di mana porsi utang bank memakan porsi sekitar Rp30 triliun. Tingginya beban bunga dari utang inilah yang menguras pendapatan perusahaan hingga memicu kerugian bersih hingga triliunan rupiah.

Berbeda dengan Waskita, WIKA masih bisa bergerak secara operasional karena mendapatkan suntikan modal dari pemerintah (PMN/Penyertaan Modal Negara). Meskipun memiliki piutang usaha sekitar Rp6,5 triliun, manajemen harus memutar otak ekstra keras karena perputaran kas harian mereka sangat ketat untuk menutup biaya operasional sekalian mencicil utang ke puluhan bank kreditur.

3. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS)

Kondisi Utama: Utang Warisan Masa Lalu & Hantaman Produk Impor

Beban Utang: Kisaran US$1,4 miliar (Sekitar Rp22 triliun)

Produsen baja milik negara ini seperti belum bisa bernapas lega dari jerat utang masa lalu. Restrukturisasi utang masif yang dilakukan beberapa tahun lalu ternyata belum cukup kuat menyelamatkan keuangan KRAS. Masalah internal seperti kerusakan salah satu fasilitas pabrik utama (Blast Furnace) ditambah faktor eksternal berupa serbuan baja impor murah dari luar negeri membuat kinerja penjualan mereka anjlok.

Dengan piutang usaha yang hanya berada di kisaran US$110 juta (sekitar Rp1,7 triliun), KRAS sangat bergantung pada kelancaran proyek manufaktur dan konstruksi domestik agar roda keuangan mereka bisa terus berputar untuk membayar komitmen utang jangka panjangnya.

4. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA)

Kondisi Utama: Ekuitas Negatif (Modal Minus) & Beban Sewa Pesawat

Beban Utang: Kisaran US$7,6 miliar – US$7,8 miliar (Sekitar Rp120 triliun)

Maskapai penerbangan nasional ini sebenarnya sempat "selamat" dari jurang kepailitan melalui proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) beberapa tahun lalu, yang berhasil memotong sebagian besar utangnya (haircut). Namun, secara akuntansi, neraca keuangan Garuda belum sepenuhnya sehat karena masih mengalami ekuitas negatif (jumlah utang jauh lebih besar daripada aset yang dimiliki).

Kewajiban terbesar Garuda didominasi oleh biaya sewa pesawat jangka panjang (lease liabilities) kepada perusahaan penyewa (lessor dunia). Dengan piutang bersih dari penjualan tiket yang hanya sekitar US$220 juta (sekitar Rp3,4 triliun), Garuda kini berkejaran dengan waktu untuk menambah jumlah armada pesawat aktif demi mendongkrak pendapatan harian mereka.

5. PT Pan Brothers Tbk (PBRX)

Kondisi Utama: Krisis Modal Kerja & Rentetan Gugatan Pailit (PKPU)

Beban Utang: Kisaran US$410 juta (Sekitar Rp6,4 triliun)

Mewakili sektor swasta, ada raksasa tekstil dan garmen PT Pan Brothers Tbk. PBRX sebenarnya adalah perusahaan hebat yang memproduksi pakaian untuk brand internasional sekelas Adidas dan Uniqlo. Mereka bahkan memiliki piutang usaha yang sehat dari para pembeli global ini senilai US$85 juta (sekitar Rp1,3 triliun).

PBRX terjebak dalam krisis modal kerja karena kesulitan melakukan refinancing (mencari pinjaman baru) untuk menutup utang sindikasi bank senilai US$123 juta yang jatuh tempo.

Karena perbankan membatasi kucuran kredit baru, operasional pabrik PBRX terganggu, yang berujung pada macetnya pembayaran ke pihak ketiga hingga membuat perusahaan berulang kali digugat PKPU oleh para pemasoknya di pengadilan.

Tags

Terkini